Federal Reserve Pertahankan Suku Bunga Acuan Tengah Lonjakan Inflasi

Share

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Rabu (17/06/2026) setelah mencatat adanya lonjakan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi akibat perang Iran.

Keputusan bulat dari Federal Open Market Committee (FOMC) ini memupus proyeksi pelonggaran kebijakan moneter setelah kalimat panduan pemotongan suku bunga resmi dihapus dari pernyataan Juni. Berdasarkan dokumen Summary of Economic Projections (SEP), hampir separuh anggota komite mengindikasikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan di tahun ini.

Rapat kebijakan ini menjadi momentum perdana bagi Kevin Warsh selaku Ketua Federal Reserve baru pilihan Presiden Donald Trump yang menggantikan Jerome Powell sejak akhir Mei lalu. Selain mengamati kebijakan suku bunga, Wall Street memproyeksikan Warsh kemungkinan besar tidak akan menyerahkan proyeksi suku bunga pribadinya atau "dot plot" dalam diagram kuartalan bank sentral.

Mantan kepala urusan moneter Fed yang kini menjadi profesor di Universitas Yale, Bill English, menilai ketidakhadiran proyeksi Warsh sangat mungkin terjadi demi mengubah metode komunikasi lembaga.

"It seems to me fairly likely that he doesn't want to submit a rate forecast," kata Bill English, mantan kepala urusan moneter di Fed dan sekarang profesor di Yale.

English menambahkan bahwa beberapa anggota komite lain yang kurang menyukai metode dot plot berpotensi mengambil langkah serupa untuk tidak menyerahkan perkiraan tingkat suku bunga.

"There may be others on the committee who don't particularly like the dot plot, who might be willing to do that, too." cetus Bill English, profesor di Yale.

Sikap penolakan Warsh terhadap dot plot didasari pada keyakinan bahwa panduan proaktif justru membatasi ruang pengambilan keputusan independen bank sentral. Dalam sidang konfirmasi April lalu, ia mencontohkan kekeliruan prediksi inflasi transisi pada 2021-2022 yang memicu lonjakan harga tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

"The Fed tells the whole world what their dots are going to be, what their forecasts are going to be." ujar Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve.

Ia mengkritik bahwa sifat manusiawi membuat otoritas cenderung mempertahankan estimasi keliru tersebut lebih lama dari yang seharusnya.

"Well, the Fed's human. Then they hold onto those forecasts longer than they should. I think if the Fed were to wait until it gets into a meeting before making a decision, that incremental deliberation can keep the central bank from compounding its errors. I think these are big changes that are needed." tutur Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve.

Di sisi lain, ekonom dari Bank of America Aditya Bhave memperkirakan Warsh absen mengisi bagan proyeksi, didukung oleh catatan ekonom Goldman Sachs David Mericle.

"We assume that Warsh will not submit dots in light of his past criticism of forward guidance, but we are not sure." tulis David Mericle, ekonom Goldman Sachs dalam nota analisisnya.

Kendati demikian, pasar keuangan global masih sangat bergantung pada publikasi SEP untuk membaca arah kebijakan ekonomi AS ke depan.

"To me it never made a lot of sense that [the SEP] at times was market moving, because its accuracy has been at best middling," tutur Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Charles Schwab.

Sonders menekankan bahwa meski akurasinya moderat, instrumen ini tetap menjadi jalur utama bagi Fed dalam mengekspresikan pandangan yang menggerakkan respons pasar.

"But it is an avenue through which the Fed expresses a view, and the market tends to move on those views." lanjut Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Charles Schwab.

Sementara itu, ekonom Claudia Sahm dari New Century Advisors memperingatkan risiko berkurangnya kredibilitas Fed jika data komite sengaja disembunyikan dari publik.

"Neutralizing the SEP this week might address some of Warsh's concerns, but it would almost certainly create new ones," kata Claudia Sahm, kepala ekonom di New Century Advisors.

Menurutnya, bank sentral yang terkesan menutupi perdebatan internal justru akan dinilai berpuas diri di tengah situasi inflasi tinggi.

"A Fed that appears to be concealing its own debate could look complacent about inflation, which is exactly the credibility it can't afford to lose." tegas Claudia Sahm, kepala ekonom di New Century Advisors.

Melalui rilis resmi pasca-rapat, komite menegaskan bahwa tingkat inflasi saat ini masih berada di atas target tahunan sebesar 2%.

"Inflation remains elevated relative to the Committee's 2% goal, in part reflecting supply shocks that have driven price increases in certain sectors, including energy," tulis FOMC dalam pernyataan resminya.

Kay Haigh dari Goldman Sachs Asset Management menjelaskan lewat surat elektronik bahwa pertemuan Juni mengonfirmasi pergeseran kebijakan Fed yang semakin ketat.

"Today's meeting confirms that the Fed's recent hawkish shift was not just about higher energy prices," ujar Kay Haigh, global co-head fixed income di Goldman Sachs Asset Management.

Meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan belakangan ini, separuh anggota FOMC tetap mengantisipasi kenaikan suku bunga karena kuatnya data pasar tenaga kerja.

"Despite the recent pullback in oil, half of the members of the FOMC expect rate hikes as soon as this year, reflecting strong labor market and inflation data." tambah Kay Haigh, global co-head fixed income di Goldman Sachs Asset Management.

Haigh memproyeksikan skenario dasar terbaik adalah Fed berupaya menghindari kenaikan suku bunga ekstrem melalui pemantauan ketat pasokan data inflasi mendatang.

"Our base case remains that the Fed can just about avoid hikes, but the path is narrow, and there will be a high premium on the incoming inflation data." jelas Kay Haigh, global co-head fixed income di Goldman Sachs Asset Management.

Sebelum keputusan rapat diumumkan, kepala strategi investasi Haverford Trust Hank Smith menyatakan ada dua tugas utama yang harus diselesaikan Warsh pada kepemimpinan perdananya.

"Warsh has two immediate jobs at this first meeting: getting the FOMC and the broader Fed leadership aligned with his vision going forward, and making sure the markets have confidence in what he's doing," ucap Hank Smith, kepala strategi investasi di Haverford Trust.

Smith menambahkan situasi ekonomi saat ini menuntut sikap disiplin tingkat tinggi untuk menjaga stabilitas pasar tanpa fluktuasi suku bunga yang radikal.

"This is not the environment for a rate cut or a rate hike — it's an environment for 'steady as she goes' — and I'll be listening for whether he projects that kind of discipline and team-building in his first press conference." pungkas Hank Smith, kepala strategi investasi di Haverford Trust.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author