Gas Metana Septic Tank Picu Kebakaran Misterius di Sleman
Kebakaran misterius melanda rumah Mutfiana, warga Seyegan, Kabupaten Sleman, sebanyak 39 kali di 34 titik berbeda sejak Sabtu (23/5). Fenomena aneh yang menghanguskan berbagai perabotan rumah tangga ini diduga kuat dipicu oleh kebocoran gas metana.
Peristiwa ini terungkap setelah pemilik rumah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian. Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Gegana yang dilansir dari Detikcom, munculnya kobaran api secara tiba-tiba itu berasal dari kebocoran septic tank di kediaman korban.
Rentetan teror api terus terjadi hingga merusak barang-barang yang mudah terbakar seperti kain, tikar, hingga furnitur. Korban menjelaskan bahwa posisi kerusakan akibat api pada benda-benda tersebut tergolong tidak biasa.
"Total sudah 39 kali di 34 titik berbeda yang terbakar. Furniture, pakaian, tikar, barang-barang yang mudah terbakar. Tapi ya aneh, atasnya kebakar masa bawah tidak terbakar," jelasnya.
Meskipun saluran septic tank telah diperbaiki sesuai arahan petugas, kemunculan api belum sepenuhnya berhenti. Korban mengaku sempat mengamankan pakaian miliknya ke tempat lain, tetapi kebakaran masih tetap terjadi.
"Yang dianjurkan dari Gegana sudah kami lakukan. Terus baju-baju memang sudah diungsikan sebenarnya, tapi ya ada aja yang kebakaran gitu," ucapnya.
Teror api teranyar kembali membakar salah satu ruangan di rumah korban pada Rabu (26/5) malam. Insiden tersebut menghanguskan sehelai kain handuk yang berada di dalam rumah.
"Masih ada kebakaran, lokasinya juga pindah-pindah. Terakhir semalam sekitar pukul 22.55 WIB, itu membakar handuk," kata Mutfiana dilansir detikJogja, Kamis (28/5/2026).
Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa potensi kebakaran masih ada karena sisa gas metana yang bocor di bawah tanah memerlukan waktu untuk menguap sepenuhnya.
"(Dari Gegana bilang) Cuma menghabiskan sisa-sisa gas, dari bawah tanah. Hilangnya metana bisa dalam mingguan atau bulanan," ucapnya.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih besar, Mutfiana bersama suami dan anaknya kini terpaksa mengungsi ke tempat tinggal kerabat terdekat pada malam hari. Area bangunan yang juga menjadi tempat pemotongan ayam tersebut tetap diawasi secara ketat secara bergantian.
"Sementara ngungsi ke rumah sebelah, nggak berani jauh-jauh. Tapi tetap kita di samping rumah tetap jaga terus. Karena kalau telat sekian menit kalau nggak konangan (ketahuan), istilahnya, nanti semua kena," ucapnya.