Kenali 4 Gejala Gagal Ginjal Akibat Diabetes dan Hipertensi

Share

Kerusakan organ penyaring atau ginjal sering kali datang tanpa adanya peringatan medis yang dramatis. Kondisi kronis ini bahkan kerap dijuluki sebagai pembunuh senyap bagi penderita diabetes maupun tekanan darah tinggi.

Banyak pasien mengabaikan kondisi ini karena tidak merasakan nyeri sama sekali pada tubuh mereka. Padahal, kadar gula darah serta tekanan darah yang tidak terkontrol secara perlahan mengikis saringan halus di dalam organ tersebut.

Diabetes dan hipertensi hingga kini masih mendominasi sebagai penyebab utama kasus gagal ginjal di seluruh dunia, dilansir dari Detik Health berdasarkan data National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases.

"Masalah ginjal bisa tanpa gejala hingga tahap akhir proses penyakit. Inilah sebabnya mengapa penting bagi siapa pun yang menderita salah satu penyakit ini untuk memantau diri mereka sendiri," wanti-wanti Dr Reetesh Sharma, Ketua Nefrologi dan Transplantasi Ginjal dari Rumah Sakit Spesialisasi Super Yatharth, India.

Berikut adalah sejumlah alarm bahaya dari tubuh yang sering kali dianggap sepele oleh banyak orang:

Banyak orang mengira pergelangan kaki yang membengkak atau kantung mata yang membesar hanya karena kelelahan, faktor penuaan, atau terlalu banyak mengonsumsi garam. Namun, kondisi ini bisa menjadi indikasi awal organ penyaring mulai kewalahan.

"Ginjal yang rusak tidak seefektif dalam membuang cairan berlebih dari tubuh melalui urinasi, dan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh," jelas Dr Sharma, dikutip dari Times of India.

Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan jika karet kaus kaki mulai meninggalkan bekas yang sangat dalam di kulit, sepatu mendadak sempit, atau wajah tampak sembap pada pagi hari.

2. Perubahan Pola dan Kondisi Urine

Perubahan pada pola buang air kecil menjadi indikator jujur mengenai kondisi organ penyaring tubuh. Dr Sharma menyebutkan bahwa tanda kerusakan bisa dideteksi jika urine tampak berbusa, berwarna keruh, atau bercampur darah.

Urine yang berbusa pekat menunjukkan adanya kebocoran protein jenis albumin yang menandakan saringan organ sudah bocor. Selain itu, frekuensi buang air kecil yang meningkat pada malam hari juga tidak boleh diabaikan.

3. Rasa Lelah Ekstrem yang Terus-menerus

Rasa lelah kerap dianggap wajar akibat stres kerja di era modern. Namun, jika lesu dan lemas tidak membaik meski sudah cukup beristirahat, hal tersebut bisa menandakan darah sudah tercemar oleh tumpukan racun.

"Mereka yang memiliki masalah ginjal akan sering merasa lelah dan lesu, dan mungkin juga mengalami penurunan nafsu makan, mual, atau penurunan berat badan yang tidak disengaja," urai Dr Sharma.

Penurunan fungsi organ yang drastis membuatnya gagal menyaring limbah berbahaya dari aliran darah. Akibatnya, tubuh terasa terus-menerus keracunan dan kehabisan energi.

4. Kulit Mendadak Kering dan Sangat Gatal

Kesehatan kulit memiliki hubungan yang jauh lebih erat dengan fungsi penyaringan tubuh daripada yang dibayangkan. Kulit yang mendadak bersisik, sangat kering, dan memicu gatal hebat yang tak kunjung reda meski diolesi pelembap dapat menjadi sinyal bahaya.

Menurut Dr Sharma, kondisi ini terjadi karena organ yang bermasalah sudah kehilangan kemampuannya dalam mengatur keseimbangan kadar mineral dan nutrisi penting di dalam darah.

Bagi orang dengan diabetes dan hipertensi, melakukan deteksi dini lewat tes darah untuk melihat laju filtrasi GFR serta tes protein urine menjadi langkah bijak sebelum kerusakan memasuki stadium akhir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author