Gempa Sigi Mengakibatkan Tiga Warga Meninggal dan Ratusan Luka
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,7 bertambah menjadi tiga orang dan 108 warga mengalami luka-luka hingga Kamis (18/6/2026).
Dampak bencana yang berpusat di Kota Palu pada Selasa (16/6/2026) ini juga memicu kerusakan 1.652 rumah warga dan 84 fasilitas umum, serta menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi di sejumlah lokasi.
Kabid Bencana BPBD Sigi Ahmad Yani mengonfirmasi adanya pembaruan data mengenai dua korban meninggal dunia tambahan yang baru masuk ke dalam laporan penanganan bencana.
"Dua korban tambahan berasal dari Desa Berdikari, Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora A Kecamatan Nokilalaki. Sebelumnya yang meninggal itu dari Desa Ampera," kata Ahmad Yani, Kabid Bencana BPBD Sigi.
Ahmad Yani menjelaskan bahwa korban dari Desa Berdikari terjatuh dan mengalami serangan jantung saat gempa terjadi, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan di Kota Palu.
"Saat gempa bumi korban terjatuh dan mengalami serangan jantung selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan di Kota Palu, Karena proses pendataannya belum masuk pada laporan awal sehingga korban tersebut belum sempat terdata," ucap Ahmad Yani, Kabid Bencana BPBD Sigi.
Sementara itu, korban meninggal dunia dari Desa Kamarora A dilaporkan sempat mendapat perawatan di RSUD Torabelo setelah mengalami benturan di perut.
"Korban ini juga memiliki riwayat penyakit tumor sehingga benturan yang dialaminya diduga memperparah kondisi kesehatannya," sebut Ahmad Yani, Kabid Bencana BPBD Sigi.
Pihak BPBD Sigi menegaskan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit setempat, sementara pemutakhiran data dampak kebencanaan di 38 desa masih terus berjalan.
"Saat ini proses pendataan masih terus berjalan," kata Ahmad Yani, Kabid Bencana BPBD Sigi.
Sebelumnya, fluktuasi data korban juga disampaikan dalam laporan terpisah terkait situasi penanganan darurat dan evakuasi di wilayah yang terdampak paling parah.
"Jadi tiga orang (meninggal dunia). Sebelumnya, yang terdata satu orang, kemudian ada dua korban tambahan yang baru masuk dalam pembaruan laporan," kata Ahmad Yani, Kepala Bidang Bencana BPBD Sigi kepada wartawan dilansir detikSulsel.
Ahmad Yani menambahkan, korban tambahan pertama tersebut sempat tidak langsung tercatat karena kendala administrasi di lapangan saat proses evakuasi awal berlangsung.
"Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Bala Keselamatan. Karena proses pendataannya saat itu belum selesai sehingga belum masuk dalam laporan awal," ujar Ahmad Yani, Kepala Bidang Bencana BPBD Sigi.
Di sisi lain, nakes setempat mengonfirmasi adanya komplikasi penyakit dalam dari korban meninggal dunia kedua yang memperburuk dampaknya pascabenturan fisik.
"Berdasarkan informasi dari tenaga kesehatan setempat, almarhum juga memiliki riwayat penyakit tumor. Benturan yang dialaminya diduga memperparah kondisi kesehatannya," imbuh Ahmad Yani, Kepala Bidang Bencana BPBD Sigi.
Kapolres Sigi AKBP Kari Amsah Ritonga menyatakan bahwa jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah telah meninjau langsung wilayah terdampak, khususnya Desa Kamarora A yang mengalami kerusakan paling masif.
"Daerah itu paling terdampak," kata Kari Amsah Ritonga, Kapolres Sigi kepada kumparan.
Menurut Kari Amsah Ritonga, peninjauan ini dilakukan guna memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan serta memberikan dorongan psikologis bagi para korban gempa bumi.
"Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat terdampak, menyalurkan bantuan kemanusiaan, serta memastikan langkah-langkah penanganan darurat dan pemulihan pascabencana berjalan optimal," ucap Kari Amsah Ritonga, Kapolres Sigi.
Rombongan pejabat daerah dilaporkan berdialog langsung di Posko Tanggap Darurat Kantor Camat Nokilalaki serta memeriksa rumah warga yang roboh.
"Rombongan berdialog langsung dengan warga. Dan kedatangan rombongan disambut baik oleh warga," jelas Kari Amsah Ritonga, Kapolres Sigi.
Berdasarkan data taktis, seorang lansia 64 tahun yang meninggal diduga mengalami serangan jantung saat berusaha menyelamatkan anggota keluarganya.
"Warga yang meninggal, diduga akibat serangan jantung atau hipertensi saat berusaha menyelamatkan anggota keluarganya ketika gempa terjadi," ucap Kari Amsah Ritonga, Kapolres Sigi.
Hingga kini, posko pengungsian masih dipadati warga karena struktur bangunan rumah mereka dinilai membahayakan dan tidak aman untuk ditempati kembali.
"Beberapa warga masih mengungsi lantaran rumah mereka memang tidak layak huni," tandas Kari Amsah Ritonga, Kapolres Sigi.