Generasi Z dan Milenial Memilih Bertahan dalam Tren Job Hugging di Dunia Kerja
Fenomena job hugging kini semakin banyak ditemui di kalangan pekerja generasi Z dan milenial, di mana mereka memilih untuk tetap bertahan pada pekerjaan yang sebenarnya tidak lagi memenuhi keinginan atau kepuasan mereka. Tren ini berbeda dengan job hopping yang mengacu pada kebiasaan berganti pekerjaan secara rutin untuk mencari pengalaman atau kenaikan karier.
Job hugging adalah kondisi di mana karyawan tetap berada dalam peran yang sama meski merasa kurang bahagia atau tidak tertantang. Situasi ini banyak dipicu oleh kekhawatiran akan ketidakpastian jika harus pindah ke pekerjaan baru, sehingga mereka lebih memilih stabilitas dan keamanan yang sudah ada.
Dilansir dari Detik Health, tren ini menunjukkan pergeseran perilaku pascapandemi, di mana ketergantungan pada pekerjaan yang stabil lebih diprioritaskan daripada mengejar peluang baru. Seperti yang dikatakan Rebecca Houghton, pendiri BoldHR, "Para pekerja tidak 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena mereka menyukainya. Mereka 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena, terus terang, alternatifnya terlihat lebih buruk."
Dalam konteks ini, pilihan bertahan lebih didorong oleh kehati-hatian daripada loyalitas terhadap perusahaan. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak pekerja merasa bahwa mempertahankan posisi yang sudah dikenal lebih aman dibanding mengambil risiko perubahan peran.
Menurut laporan CNBC, perlambatan aktivitas perekrutan di pasar kerja global telah mencapai titik terendah sejak 2013, sehingga kesempatan berpindah pekerjaan semakin sedikit. Ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi mendorong pekerja untuk mempertahankan posisi mereka saat ini.
Psikolog klinis Dr. Kaitlin Harkess memberikan pandangan terkait risiko job hugging. Ia menuturkan bahwa meski memberi rasa aman dalam jangka pendek, bertahan di pekerjaan yang tidak sesuai dapat menurunkan motivasi dan kepercayaan diri. Hal ini berpotensi menyebabkan burnout dan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
"Dari sudut pandang psikologis, bahayanya adalah semakin lama seseorang bertahan karena rasa takut dan sunk cost, semakin merasa tidak berdaya dan terjebak," ujar Dr. Harkess.
Meskipun demikian, tidak semua kondisi bertahan di pekerjaan termasuk job hugging. Ada yang memilih bertahan demi stabilitas agar bisa fokus pada hal lain seperti keluarga atau minat pribadi. Dalam hal ini, ketidaknyamanan yang ada masih diikuti dengan upaya bergerak ke arah yang dianggap penting.
Berbeda dengan itu, job hugging yang tidak sehat adalah ketika pekerja bertahan semata karena ketidakmampuan menghadapi ketidakpastian. Motivasi psikologis antara rasa takut dan pilihan tersebut berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.