Giorgia Meloni Kritik Regulasi Uni Eropa di Sidang Confindustria

Share

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melayangkan kritik tajam terhadap tatanan regulasi Uni Eropa yang dinilai mengorbankan daya saing ekonomi dan pertumbuhan industri negara anggota. Kritik terbuka tersebut disampaikan di hadapan para pelaku industri dalam sidang umum asosiasi pengusaha Confindustria di pusat kongres La Nuvola, Roma, pada Rabu, 27 Mei 2026.

Forum tahunan tersebut turut dihadiri oleh Presiden Italia Sergio Mattarella, Presiden Senat Ignazio La Russa, serta Menteri Adolfo Urso, sementara Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola menyampaikan pesan melalui video. Meloni menilai Brussel telah berubah menjadi raksasa birokrasi yang agresif memperluas regulasi tetapi lemah dalam menghadapi tantangan global.

Sebelum Meloni menyampaikan pidatonya, Presiden Confindustria Emanuele Orsini memaparkan berbagai krisis yang melanda industri dasar Eropa, mulai dari sektor kertas, baja, kaca, kimia, semen, hingga keramik. Menurut Orsini, seluruh sektor tersebut tertekan oleh lonjakan biaya energi, regulasi Uni Eropa, serta persaingan harga yang tidak terkendali dari produk impor Tiongkok.

Orsini mencatat bahwa Uni Eropa telah kehilangan sekitar 250 ribu pekerjaan manufaktur sejak awal mandat komisi saat ini, yang berdampak pada pengurangan satu juta lapangan kerja di industri terkait. Atas dasar tersebut, Confindustria mendesak penangguhan segera terhadap Sistem Perdagangan Emisi Eropa atau ETS yang dinilai sebagai sebuah kegilaan.

Pihak asosiasi industri juga menuntut pembentukan pasar energi tunggal, pasar modal bersama, penerbitan utang bersama untuk membiayai kebijakan industri, serta percepatan kembalinya Italia ke tenaga nuklir. Orsini menekankan bahwa akumulasi peraturan baru terus terjadi, di mana 10 paket legislatif diajukan pada akhir 2025 dan 12 paket lainnya menyusul pada 2026.

Di sisi lain, Uni Eropa sebenarnya telah menerapkan program reformasi administratif seperti Regulasi yang Lebih Baik dan program REFIT untuk menekan biaya kepatuhan bagi pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah. Sistem tersebut menerapkan prinsip Satu Masuk, Satu Keluar demi mengendalikan inflasi prosedural, meskipun para pengusaha Italia tetap menilai birokrasi Brussel terlalu membebani.

Merespons situasi tersebut, Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan komitmen pemerintahnya untuk mendukung sektor produksi dan memuji ketangguhan dunia usaha nasional sebagai fondasi identitas serta reputasi internasional Italia.

"Jika Italia dikenal dunia sebagai rumah bagi keindahan, kualitas, dan karya terbaik, itu berkat perusahaan-perusahaan kita dan para pekerjanya," ujar Meloni, dilansir dari Republika.

Meloni kemudian menyoroti ketidakseimbangan peran Uni Eropa yang dinilai terlalu fokus pada prosedur domestik namun mengabaikan posisi strategisnya di kancah internasional dibandingkan negara pesaing seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan India.

"Eropa tak terbendung dalam memperbanyak aturan, tetapi picik ketika harus menyuarakan kepentingannya di panggung dunia," kata Meloni.

Kritik dari pemimpin pemerintahan Italia ini mempertegas sikap politiknya yang konsisten memperjuangkan kedaulatan nasional di atas sentralisasi kekuasaan Uni Eropa.

"Kita punya ribuan aturan, tapi tak punya suara yang cukup kuat untuk membela kepentingan kita di dunia," ujar Meloni, dikutip dari Sumbawanews.

Meloni menambahkan bahwa pendekatan ideologis Brussel pada regulasi lingkungan, digital, dan sosial telah membebani sektor produksi di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan harga energi.

"Kita mengatur cara orang memakai sendok, tapi diam saja ketika pabrik-pabrik kita tutup karena tak mampu bersaing dengan subsidi asing," tegas Meloni.

Kendati mengakui adanya beberapa perbedaan posisi dengan Confindustria, Meloni menyatakan bahwa pemerintah dan dunia usaha memiliki tujuan yang sama untuk membawa perubahan arah kebijakan di Uni Eropa.

"Eropa tak terbendung dalam kemampuannya memperbanyak aturan di setiap aspek kehidupan bersama, tetapi berpandangan sempit ketika harus menyuarakan pendapatnya dalam kehidupan global," kata Meloni, dilansir dari Firstonline.

Meloni menegaskan bahwa desakan reformasi birokrasi ini bukan bertujuan untuk merusak kedaulatan bersama, melainkan untuk membangun masa depan peradaban Eropa yang lebih kompetitif.

"Kita meminta agar Eropa mengurangi pengeluaran dan melakukannya dengan lebih baik," lanjut Meloni.

Sebagai langkah konkret, Perdana Menteri Italia mengusulkan pembentukan lokasi konstruksi bersama guna mereformasi sistem birokrasi di dalam negeri.

"Kita tidak dibangun untuk mengatur dunia. Kita dibangun untuk mengubahnya," tutup Meloni dalam majelis industri tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author