Graham Platner Mundur dari Bursa Senat AS akibat Skandal
Kandidat dari Partai Demokrat, Graham Platner, resmi menangguhkan kampanye pemilihan Senat Amerika Serikat di Maine setelah menghadapi berbagai skandal, termasuk tuduhan kekerasan seksual dari seorang perempuan.
Langkah penangguhan ini diambil setelah para petinggi Demokrat mendesaknya mundur demi menjaga peluang partai merebut kendali Senat AS dalam pemilu mendatang. Berdasarkan hukum negara bagian, Platner harus resmi mengundurkan diri paling lambat 13 Juli agar nama penggantinya bisa masuk ke dalam surat suara.
Melalui video berdurasi 11 menit yang diunggah di platform X pada hari Rabu, Platner menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan bentuk pengakuan bersalah, melainkan karena adanya ancaman pemutusan dukungan dana kampanye dari internal partai. Mantan tentara dan peternak tiram tersebut sebelumnya meraih dukungan luas berkat narasi populisme progresifnya.
"We're suspending campaign operations," kata Graham Platner, mantan kandidat Senat AS.
Platner menyatakan baru akan menyerahkan berkas pengunduran diri resmi setelah mendapat jaminan bahwa proses penentuan kandidat pengganti untuk melawan petahana dari Partai Republik, Susan Collins, berjalan secara transparan.
"But I will say this: it needs to be open, transparent, and democratic. It needs to be reflecting the will and the values of the people that built this movement," ujar Graham Platner, mantan kandidat Senat AS.
Platner juga membantah tuduhan kekerasan seksual yang dialamatkan kepadanya dan mengkritik respons cepat dari media serta elite politik.
"I learned about this through press inquiries with no time to truly respond, no time for investigations before a corporate media system and the political establishment got to act as judge, jury, and executioner," tutur Graham Platner, mantan kandidat Senat AS.
Pernyataan partai menyebutkan bahwa pengunduran diri Platner terjadi setelah Politico merilis kesaksian Jenny Racicot (41) yang mengaku bahwa Platner memasuki rumahnya tanpa izin dan melakukan kekerasan seksual dalam kondisi mabuk. Selain itu, laporan Washington Post juga memuat pengakuan mantan pacar Platner lainnya, Lyndsey Fifield, yang menyebut Platner berulang kali melepas kondom tanpa persetujuan saat berhubungan intim.
Menyikapi kekosongan posisi ini, Partai Demokrat Maine mengumumkan rencana untuk memilih nomine baru melalui konvensi yang akan digelar dalam dua minggu ke depan.
"There is an unprecedented amount of energy and enthusiasm among Maine Democrats, driven in part by many of the dedicated volunteers and supporters who were inspired by Graham Platners's campaign," tulis Partai Demokrat Maine dalam pernyataan resminya.