Gua Donan Pangandaran Mulai Terlupakan Wisatawan Meski Simpan Sejarah Kolonial Belanda

Share

Kabupaten Pangandaran tidak hanya menyuguhkan keindahan wisata pantai yang memukau. Wilayah ini juga memiliki destinasi bersejarah bernama Gua Donan yang kini kondisinya mulai terlupakan oleh para wisatawan.

Objek wisata yang menawarkan konsep jelajah alam dan edukasi sejarah kolonial ini terletak di Dusun Cintamaju, Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Lokasinya berada tepat di kelokan jalan raya Banjar-Kalipucang setelah SPBU Kalipucang, atau berjarak sekitar 13 kilometer dari Pantai Pangandaran jika ditempuh dari arah Bandung, seperti dilansir dari Detik Travel.

Meskipun posisinya strategis di pinggir jalan utama, Gua Donan belum mampu menjadi magnet bagi pelancong. Suasana di area wisata ini terkesan angker dengan gerbang besi berkarat, tulisan nama gua yang kusam, serta keberadaan tiga patung penjaga berwajah seram dengan cat terkelupas.

Kondisi tangga menuju gua juga tampak dipenuhi lumut dan tumpukan dedaunan kering karena jarang dibersihkan. Menurut penuturan warga setempat bernama Saefullah, minimnya kunjungan wisatawan membuat tempat rekreasi ini menjadi tidak terawat.

"Padahal dulu begitu terawat dan ada penjaganya, saat ini gak ada yang urus, sehingga tumpukan sampah dedaunan pun terlihat menumpuk," kata Saefullah.

Warga lainnya, Riswana Eris, mengungkapkan bahwa jumlah pelancong yang mendatangi destinasi ini kini bisa dihitung dengan jari. Faktor kurangnya konsep pembangunan dan minimnya ide wisata yang menarik ditengarai menjadi penyebab utama sepinya objek wisata tersebut.

"Mungkin saat ini Goa Donan tak bisa memikat wisatawan, kadang ada 5-10 orang itu pun hanya masuk sedikit," ucapnya.

Demi menarik minat pengunjung, pihak pengelola akhirnya menggratiskan tiket masuk ke area gua. Riswana menambahkan bahwa saat ini segmen pengunjung yang tersisa dan dapat diandalkan hanya berasal dari kelompok akademisi.

"Karena satu-satunya wisatawan yang bisa diandalkan hanya dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang melakukan penelitian," ucapnya.

Sebelum telantar, objek wisata Gua Donan dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar dan pemerintah desa setempat. Pihak pengelola bahkan sudah menyediakan fasilitas penunjang seperti area parkir kendaraan, toilet umum, hingga lapak bagi para pedagang.

"Usaha sudah maksimal, tapi mungkin perlu pandangan lebih dari Pemerintah Kabupaten Pangandaran," katanya.

Ketiadaan fasilitas penerangan lampu yang memadai pada malam hari membuat area luar gua sering luput dari perhatian pengendara yang melintas. Riswana menyebut kendala biaya menjadi alasan utama pihak pengelola tidak bisa menyediakan sistem pencahayaan.

"Karena memang gak ada pengadaan untuk itu, pengelola tak punya biaya," ucapnya.

Kondisi dalam gua yang gelap gulita juga dinilai berbahaya bagi keselamatan pengunjung jika mereka nekat masuk tanpa didampingi oleh pemandu lokal. Langkah antisipasi ini diperlukan untuk menghindari ancaman dari hewan liar.

"Kekhawatirannya ketemu biawak atau ular," ucapnya.

Secara potensi, Gua Donan sebenarnya menyimpan daya tarik yang besar karena memiliki empat ruangan luas yang dahulu difungsikan oleh tentara Belanda sebagai gudang senjata dan bunker pertahanan. Warga berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah untuk melakukan penataan kawasan wisata ini agar lebih indah.

"Kami ada keinginan untuk menjadikan bagian atas gua dijadikan rest area pengunjung Pangandaran. Bisa juga dibuatkan rumah pohon, ditata tamannya supaya indah. Ya intinya kami berharap pemerintah bisa turun tangan melakukan penataan," katanya.

Bagi pelancong yang ingin berkunjung dari arah Bandung, Tasikmalaya, atau Ciamis, akses menuju lokasi cukup mudah menggunakan angkutan umum atau jalur pedesaan. Wisatawan hanya perlu turun di belokan perbatasan Desa Cibuluh dan Desa Tunggilis yang berada di tepian sebelah kanan jalan Kalipucang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author