BRIN Soroti Hambatan Regenerasi dan Pelembagaan Partai Politik Indonesia
Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Lili Romli menyoroti mandeknya regenerasi kepemimpinan dan pelembagaan partai politik yang masih lemah di Indonesia pada Kamis, 28 Mei 2026. Permasalahan tersebut dinilai menghambat kualitas demokrasi nasional akibat parpol yang cenderung bergantung pada figur tertentu.
Ketergantungan partai politik terhadap tokoh sentral membuat nasib organisasi tersebut rentan goyah. Lili Romli menyatakan bahwa kaderisasi di dalam parpol saat ini belum menjadi budaya organisasi yang kuat.
"Banyak partai masih sangat bergantung pada tokoh sentral. Ketika figur kuat melemah, partai ikut goyah. Regenerasi kepemimpinan sering kali tidak berjalan secara meritokratis. Kaderisasi belum menjadi budaya organisasi, melainkan sekadar aktivitas administratif menjelang pemilu," kata Lili Romli dalam seminar bertajuk 'Menuju Partai Politik Modern' di Jakarta yang dilansir IDN Times.
Hubungan antara partai politik dan masyarakat juga dikritik karena cenderung bersifat transaksional. Parpol dinilai hanya aktif mendekati warga ketika menjelang kontestasi pemilihan umum demi kepentingan elektoral belaka.
"Di sisi lain, hubungan partai dengan masyarakat cenderung bersifat transaksional dan musiman. Partai hadir menjelang pemilu, tetapi kurang hadir dalam kehidupan sosial warga sehari-hari. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap partai politik terus mengalami tantangan," ujar Lili Romli.
Pelembagaan partai politik yang kuat merupakan pilar utama untuk menjaga substansi demokrasi. Menurut Lili Romli, parpol memegang peranan krusial dalam melahirkan pemimpin dan menyalurkan aspirasi masyarakat luas.
"Melalui partailah, kader pemimpin lahir, aspirasi rakyat disalurkan, pendidikan politik dijalankan, dan pemerintahan dibentuk. Tanpa partai politik yang kuat dan terlembaga, demokrasi hanya akan menjadi prosedur lima tahunan yang kehilangan substansi," tutur Lili Romli.
Kualitas demokrasi nasional pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas internal parpol itu sendiri. Namun, indeks pelembagaan partai politik di Indonesia pasca-Reformasi tercatat masih menghadapi banyak kendala.
"Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem kepartaian Indonesia pasca-Reformasi belum sepenuhnya terlembaga secara kuat. Kondisi pelembagaan partai politik berdasarkan IPPP 2024 masuk dalam kategori sedang (skor) 74,16," jelas Lili Romli.
Di sisi lain, tantangan parpol dalam sepuluh tahun ke depan berkaitan erat dengan ketertarikan generasi muda untuk masuk ke dalam sistem politik. Dilansir dari Kompasiana, saat ini sebesar 55 persen pemilih di Indonesia merupakan penduduk yang berusia di bawah 40 tahun.
Banyak generasi muda yang menganggap parpol berjalan lambat, transaksional, dan terlalu feodal dengan logika senioritas serta loyalitas buta. Akibatnya, pemuda lebih memilih jalur alternatif seperti komunitas, LSM, atau perusahaan sosial yang dinilai memberikan dampak lebih cepat.
Kondisi politik nasional saat ini juga memicu dorongan bagi kaum minoritas dan generasi muda untuk membangun wadah perjuangan politik yang mandiri. Dilansir dari lintascakrawalanews.com, kemunculan partai Kristen dipandang penting sebagai rumah perjuangan moral yang berfokus pada penegakan hukum sesuai Pasal 27 ayat (1) UUD 1945.