Harga Beras di Jepang Turun untuk Pertama Kali Setelah 3,5 Tahun
Harga beras di Jepang akhirnya mencatat penurunan pada Mei untuk pertama kalinya dalam 3,5 tahun terakhir. Penurunan ini terjadi setelah lonjakan harga sebelumnya sempat menekan pemerintah dan memicu ketidakpuasan publik. Seperti dikutip dari Detik Finance, seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Jepang yang menangani data inflasi mengonfirmasi perkembangan tersebut.
Mengutip CNA, harga beras di luar varietas premium koshihikari pada Mei tercatat 5,4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2022. Pemerintah Jepang yang kini dipimpin Perdana Menteri Sanae Takaichi telah mengambil berbagai langkah untuk menekan harga, termasuk dengan melepas cadangan beras darurat milik negara ke pasar.
Seorang warga Tokyo bernama Jun Hongo mengatakan penurunan harga sangat membantu dirinya. Meskipun menurutnya, harga komoditas tersebut masih tergolong mahal dan jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Beberapa hari lalu saya melihat beras kemasan 10 kilogram dijual di kisaran 4.000 yen untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jadi saya langsung membelinya," kata pria berusia 48 tahun tersebut. Menurut para ahli, kelangkaan pasokan sebelumnya dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah musim panas yang sangat kering pada 2023 yang merusak hasil panen di berbagai wilayah Jepang.
Setelah itu, sejumlah pedagang disebut mulai menimbun beras dengan harapan bisa memperoleh keuntungan lebih besar di kemudian hari. Masalah tersebut semakin memburuk akibat aksi panic buying setelah pemerintah mengeluarkan peringatan potensi gempa besar pada 2024, meskipun bencana tersebut akhirnya tidak terjadi. Di saat yang sama, kenaikan harga pangan impor membuat permintaan terhadap beras lokal meningkat. Rekor jumlah wisatawan yang datang ke Jepang juga disebut turut mendorong lonjakan konsumsi komoditas tersebut.