Harga Bitcoin melonjak 18 persen dalam 48 jam

Share

Harga Bitcoin menguat tajam dalam 48 jam terakhir, melonjak sekitar 18 persen hingga menembus 77.600 dollar AS. Pergerakan ini memulihkan posisi Bitcoin di atas 70.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026, menurut Yahoo Finance AlphaSpace.

Berdasarkan data Yahoo Finance AlphaSpace, pada Jumat (21/8/2026) harga Bitcoin berada di sekitar 77.600 dollar AS. Kenaikan terjadi saat pasar merespons perkembangan terkait likuiditas di pasar keuangan Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi regulasi aset digital.

Strategis Bernstein, Gautam Chhugani, menilai pemicu lonjakan terutama berasal dari langkah US Treasury yang meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS pada tenor panjang kurva imbal hasil.

"Pemicu kuat Bitcoin didorong oleh langkah Treasury untuk membeli kembali obligasi di bagian tenor panjang kurva imbal hasil," kata Chhugani dalam catatannya, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (21/8/2026).

Chhugani menambahkan bahwa Bitcoin secara historis cenderung merespons positif ketika likuiditas di pasar meningkat. Ia juga mengaitkan melemahnya minat terhadap Bitcoin dan pasar kripto tahun ini dengan kondisi pasar yang lebih ketat setelah konflik Iran serta meningkatnya risiko inflasi.

"Kami bukan ahli makroekonomi, tetapi kami tahu Bitcoin secara historis memberikan respons positif terhadap ekspansi likuiditas," ujarnya.

Menurut catatan Chhugani, derasnya aliran dana ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor turut mengurangi likuiditas ke pasar kripto. Ia menyebut semua faktor itu menarik likuiditas keluar dari pasar kripto.

"Semua itu menarik likuiditas keluar dari pasar kripto," kata Chhugani.

Langkah US Treasury mengejutkan pasar keuangan pada pekan ini dengan menggandakan batas maksimum pembelian kembali obligasi jangka panjang dari 2 miliar dollar AS menjadi 4 miliar dollar AS dalam setiap sesi. Kebijakan itu menargetkan obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun setelah imbal hasil obligasi acuan AS mencapai level tertinggi dalam 20 tahun.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis (20/8/2026) mengatakan ia memiliki "banyak perangkat" untuk menangani kenaikan imbal hasil obligasi. Pernyataan tersebut memperkuat optimisme investor terhadap potensi bertambahnya likuiditas.

"banyak perangkat" untuk terus menangani kenaikan imbal hasil obligasi.

Sentimen positif juga diperkuat pertemuan di Gedung Putih antara Presiden AS, Donald Trump, dan sejumlah pelaku utama industri aset digital. Pertemuan itu dihadiri antara lain perwakilan Coinbase dan Robinhood.

Trump meminta Kongres AS meloloskan versi "adil" dari Clarity Act dan menegaskan Amerika Serikat akan tetap menjadi "pemimpin yang tak terbantahkan" dalam industri Bitcoin dan kripto.

Menurut Chhugani, pelaku industri memperkirakan Clarity Act dapat disahkan pada masa persidangan Kongres pada September. Jika tidak, regulator diperkirakan menerbitkan aturan dan pengecualian baru melalui SEC serta CFTC.

"Industri kini memperkirakan Clarity Act akan disahkan pada masa persidangan September atau akan ada seperangkat aturan dan pengecualian baru dari SEC/CFTC," kata Chhugani.

Ia menambahkan bahwa jika Clarity Act tidak disahkan, industri kripto dapat melihat percepatan pembuatan aturan untuk produk baru, termasuk perdagangan kontrak berjangka perpetual untuk komoditas dan saham 24 jam sehari serta derivatif komputasi seperti perpetual futures.

Selain itu, dukungan pemerintah federal terhadap pasar prediksi juga diperkirakan terus berlanjut. Dengan kombinasi ekspektasi peningkatan likuiditas dan prospek regulasi yang lebih jelas, Bitcoin menembus kembali level 70.000 dollar AS setelah terakhir diperdagangkan di atas level tersebut pada akhir Mei.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author