Harga Emas Dunia 20 Juni 2026 Anjlok Tiga Hari Beruntun
Harga emas dunia kembali mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan kemarin. Logam mulia ini resmi mencatatkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, harga emas dunia di pasar spot bertengger di posisi US$ 4.151,7 per troy ons pada Jumat (19/6/2026). Nilai tersebut anjlok 1,36% dari hari sebelumnya.
Pelemahan ini membawa harga emas ke level terendah sejak 10 Juni atau dalam hampir dua pekan terakhir. Dalam kurun waktu tiga hari tersebut, harga sang logam mulia sudah terpangkas sebanyak 4,15%.
Akumulasi sepanjang pekan ini menunjukkan harga emas jatuh sebesar 1,66%. Catatan tersebut membuat komoditas ini terkoreksi selama tiga minggu berturut-turut tanpa putus.
Terdapat dua faktor utama yang memicu kejatuhan harga komoditas ini. Faktor pertama berkaitan erat dengan eskalasi situasi geopolitik di Timur Tengah.
Amerika Serikat (AS) dan Iran sebenarnya telah menandatangani perjanjian damai interim. Kendati demikian, kondisi perdamaian di wilayah tersebut dinilai masih sangat rapuh.
Iran dikabarkan menunda pembahasan kesepakatan damai permanen akibat tindakan Israel yang masih menggempur Lebanon. Selain itu, setiap kapal yang melewati Selat Hormuz kini diwajibkan mengantongi izin dari Teheran.
Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak mentah. Kemarin, minyak jenis brent ditutup menguat hampir 1% menuju level US$ 80,58 per barel.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global. Situasi ini berpotensi memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat melalui kenaikan suku bunga acuan.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Oleh karena itu, memegang emas menjadi kurang kompetitif saat era suku bunga tinggi.
Faktor kedua yang memengaruhi pergerakan ini adalah arah kebijakan moneter global. Potensi inflasi tinggi membuat bank sentral bersikap siaga, sehingga opsi pelonggaran moneter tampaknya belum akan diambil.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz memang positif bagi emas, tetapi kemudian tertutup oleh pengetatan moneter. Secara historis, emas akan lesu saat kenaikan (suku bunga acuan) pertama,” kata Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp.
Berdasarkan perspektif mingguan (weekly time frame), posisi emas saat ini berada di zona bearish. Hal tersebut terindikasi dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang menyentuh angka 39.
Kondisi teknikal dengan indikator RSI di bawah angka 50 mengonfirmasi bahwa suatu aset sedang berada dalam tren melemah.
Namun, indikator Stochastic RSI 14 hari tercatat sudah menyentuh level nol. Posisi terendah ini mencerminkan kondisi pasar yang sudah sangat jenuh jual (oversold).
Melalui parameter teknikal tersebut, pergerakan harga emas sebenarnya memiliki peluang untuk mengalami rebound pada perdagangan pekan depan.
Pelaku pasar perlu mencermati titik pivot point yang berada di level US$ 4.202 per troy ons. Jika mampu melewati titik tersebut, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.352 per troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5.
Resisten selanjutnya diproyeksikan berada pada rentang US$ 4.389 hingga US$ 4.542 per troy ons. Untuk target paling optimistis, pergerakan harga diklaim dapat mencapai US$ 4.729 per troy ons.
Sebaliknya, apabila tren penurunan masih berlanjut, level US$ 4.072 per troy ons diperkirakan akan menjadi target support terdekat. Penembusan pada area ini berisiko menekan harga emas lebih dalam ke kisaran US$ 3.951 hingga US$ 3.862 per troy ons.
Sementara itu, batas target paling pesimistis untuk koreksi harga emas berada di level US$ 3.701 per troy ons.