Harga Emas Dunia Anjlok Akibat Tekanan Inflasi Energi
Harga emas dunia merosot tajam pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2026) waktu setempat akibat lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi global serta meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Dilansir dari Refinitiv, harga emas spot ditutup melemah 0,8 persen ke posisi USD 4.508,73 per troy ons yang sekaligus menjadi level terendah dalam empat hari terakhir. Penurunan ini mengakibatkan komoditas tersebut terkoreksi 0,65 persen secara mingguan sekaligus mencatat tren negatif selama dua pekan beruntun.
Kondisi pasar komoditas yang bergerak fluktuatif ini memicu respons dari sejumlah analis global yang mencermati pergerakan arus logistik di kawasan Timur Tengah.
"Pelaku pasar saat ini seperti kelinci yang terpaku oleh lampu kendaraan, fokus pada Hormuz dan dampaknya terhadap gangguan rantai pasok secara luas, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi serta potensi kenaikan suku bunga," kata analis StoneX, Rhona O'Connell.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global tersebut berbanding lurus dengan ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan dekat level tertinggi dalam satu tahun sehingga menekan daya tarik emas.
"Harga minyak turun dan dollar AS yang mulai melemah dari posisi tertinggi enam minggu seharusnya menjadi kabar baik bagi emas dalam jangka pendek, dan sejauh ini harga emas mulai menguat," ujar Wakil Presiden sekaligus analis senior logam Zaner Metals, Peter Grant saat mengamati pergerakan sesi sebelumnya.
Meskipun sempat ada sentimen positif dalam jangka pendek, para pelaku pasar dinilai tetap menahan diri akibat besarnya risiko kegagalan kesepakatan geopolitik di masa lalu.
"Saya memperkirakan perdagangan masih akan berlangsung cukup hati-hati pada awalnya. Kita sudah melihat beberapa kesepakatan sebelumnya berujung gagal," kata Peter Grant.
Di sisi lain, tekanan terhadap emas global juga diperparah oleh kebijakan moneter ketat yang diadopsi oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve untuk meredam laju inflasi.
"Kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi memberi tekanan kepada bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Hal ini masih menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek," jelas analis UBS, Giovanni Staunovo.
Sementara itu, dari pasar komoditas logam mulia lainnya pada perdagangan akhir pekan, perak spot tercatat naik 0,9 persen ke level USD 76,63 per ons, platinum menguat 0,6 persen menjadi USD 1.962 per ons, dan palladium tumbuh 1,1 persen ke posisi USD 1.384,50 per ons.
"Terjadi aksi jual di seluruh logam mulia karena beberapa alasan. Dolar cukup kuat hari ini. Kami juga melihat tidak hanya kenaikan di AS, tetapi kenaikan global dalam tingkat imbal hasil obligasi," ujar analis Marex, Edward Meir mengutip laporan CNBC International.
Sikap hawkish dari Federal Reserve serta belum adanya solusi konkret atas konflik pelayaran di Selat Hormuz diproyeksikan masih akan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga emas global ke depan.