Harga Emas Dunia Melemah Akibat Konflik Baru di Teluk Persia
Harga emas dunia mempertahankan pelemahannya di bawah US$4.500 per ons pada perdagangan Asia hari Rabu (27/5/2026) menyusul bentrokan baru di Teluk Persia. Dilansir dari Bloombergtechnoz, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ini meredam harapan kesepakatan damai serta memicu kekhawatiran inflasi jangka panjang.
Komoditas bullion tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 1,4 persen pada hari Selasa sebelumnya. Permusuhan pasukan kedua negara di dekat Selat Hormuz terjadi saat proses diplomasi menuju kesepakatan damai sementara sedang berjalan, yang menurut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi.
Meskipun konflik telah berlangsung selama tiga bulan dan memicu kemerosotan harga bullion hingga 15 persen sejak akhir Februari, para trader melihat adanya sinyal kemajuan diplomatik. Di sisi lain, situasi ini mendorong pasar saham menyentuh level tertinggi baru karena sentimen risk-on.
Analis TD Securities, Ryan McKay menilai situasi geopolitik ini masih sangat rentan bagi pergerakan sektor logam mulia secara keseluruhan.
"Meski harapan terhadap kesepakatan AS-Iran telah memberi sedikit dukungan, situasinya tetap rapuh dan berkepanjangan, sementara kekhawatiran inflasi masih membayangi logam mulia," kata Ryan McKay, analis TD Securities.
McKay menambahkan bahwa proyeksi pergerakan harga komoditas ini masih menunjukkan tren penurunan yang cukup kuat.
"Pada akhirnya, asimetri harga masih sangat condong ke arah penurunan secara keseluruhan," kata Ryan McKay, analis TD Securities.
Kenaikan harga energi akibat perang telah mendorong kekhawatiran inflasi dan membuat para trader mengantisipasi kenaikan suku bunga. Kondisi tingginya biaya pinjaman tersebut menjadi beban bagi pergerakan emas karena komoditas ini tidak menghasilkan imbal hasil bunga.
Dampak dari lonjakan harga minyak juga menjadi perhatian serius otoritas moneter, termasuk Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda yang memperingatkan risiko pengetatan ekonomi yang lebih luas. Sementara itu, kebijakan hawkish dari sejumlah bank sentral diperkirakan akan terus berlanjut.
"Data inflasi terbaru di berbagai ekonomi utama telah memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral mungkin perlu mempertahankan sikap hawkish atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang," kata Manav Modi, analis komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd.
Pada perdagangan Rabu pukul 14:37 di Singapura, harga emas spot berada di level $4.484,74 per ons atau turun 0,5 persen. Penurunan ini diikuti oleh sektor logam lainnya seperti perak yang melemah 2,4 persen ke posisi $75,02 per ons, serta penurunan pada platinum dan paladium.