Harga Emas Menguat Setelah Trump Sebut Selat Hormuz Berpotensi Buka
Harga emas dunia mengalami penguatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali pada Jumat, yang diperkirakan mampu meredakan guncangan pada pasar energi serta tekanan inflasi global.
Lonjakan harga komoditas ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan sementara guna menghentikan perang serta mencabut blokade maritim di jalur strategis tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Rabu (17/6/2026).
Emas batangan diperdagangkan di atas US$4.310 per ons setelah melonjak sebesar 2,2 persen pada sesi sebelumnya, sementara harga emas spot naik 0,6 persen ke posisi US$4.339,38 per ons pada pukul 15.30 waktu New York.
Kepala Strategi Makro dan Pendapatan Tetap Global di J.P. Morgan Private Bank, Alex Wolf, memberikan pandangan mengenai dampak kesepakatan geopolitik ini terhadap pergerakan instrumen safe haven tersebut.
"Saya melihat kesepakatan AS-Iran sebagai katalis positif bagi emas karena banyak hambatan yang muncul akibat konflik kini mulai mereda," kata Alex Wolf, Kepala Strategi Makro dan Pendapatan Tetap Global di J.P. Morgan Private Bank, dalam sebuah wawancara.
Menurut Wolf, hambatan yang mereda tersebut meliputi tingginya harga energi, kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, hingga penurunan volume pembelian emas oleh investor serta bank sentral di kawasan Timur Tengah.
"Dengan mulai meredanya faktor-faktor tersebut, pendorong struktural harga emas—seperti pembelian oleh bank sentral, diversifikasi dari dolar AS, serta permintaan yang tetap kuat dari Asia dan Timur Tengah—diperkirakan akan kembali menjadi faktor utama penggerak pasar," ujar Wolf.
Di sisi lain, sejumlah sekutu Amerika Serikat bersikap lebih hati-hati dan kurang optimis terkait kecepatan pemulihan arus pengiriman energi dan komoditas lain melalui jalur perairan tersebut.
Penurunan harga minyak yang berlanjut ikut mendorong imbal hasil obligasi lebih rendah, meskipun harga emas tercatat masih turun sekitar 18 persen sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
Pada perdagangan komoditas lainnya, harga perak naik 0,4 persen menjadi US$70,3025 per ons, yang diikuti oleh penguatan platinum dan paladium, sementara Bloomberg Dollar Spot Index melemah 0,1 persen.
Para pelaku pasar logam mulia saat ini sedang fokus menantikan rangkaian keputusan bank sentral pekan ini, termasuk pertemuan Federal Reserve yang untuk pertama kalinya dipimpin oleh Ketua baru Kevin Warsh dengan ekspektasi kenaikan suku bunga pada akhir tahun.