Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan AS dan Iran
Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika Hizbullah terus menyerang Israel. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan pembicaraan damai antara Washington dan Teheran, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Minyak Brent sempat menguat hingga 2,2 persen ke level US$82,30 per barel pada awal perdagangan, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$77 per barel. Ketegangan meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan negosiasi di Swiss pada Minggu, 21 Juni 2026, pasca-ancaman Trump, meskipun beberapa pihak menyebut perundingan tetap berjalan.
Situasi di Timur Tengah yang menyumbang sepertiga produksi minyak global ini memengaruhi stabilitas pasokan. Di sisi lain, proses deeskalasi sebenarnya baru saja dimulai melalui jendela negosiasi 60 hari setelah Trump menandatangani nota kesepahaman pada pekan sebelumnya.
Ancaman keras terhadap penutupan jalur laut strategis disampaikan langsung oleh pemimpin Amerika Serikat tersebut dalam sebuah wawancara televisi resmi.
"Kalian bahkan tidak akan sempat kembali" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan dengan kata-kata kasar itu dilontarkan Trump untuk memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menutup Selat Hormuz. Meski ada klaim penutupan jalur oleh Iran, jutaan barel minyak dilaporkan tetap mengalir melalui selat tersebut sepanjang akhir pekan.
Faktor penentu keberhasilan diplomasi ini diungkapkan oleh seorang pejabat yang mengetahui jalannya perundingan namun meminta identitasnya dirahasiakan.
"Kalian bahkan tidak akan sempat kembali" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Konflik di Lebanon dinilai menjadi kunci utama yang akan menentukan hasil akhir dari seluruh rangkaian negosiasi di resor Bürgenstock, Swiss. Sementara itu, jika kesepakatan damai tercapai, sekitar 80 juta barel minyak diperkirakan siap membanjiri pasar global yang saat ini sedang mengalami pelemahan permintaan, terutama akibat penurunan pembelian oleh China.
Mengantisipasi perkembangan situasi, sejumlah negara produsen di Teluk Persia mulai bersiap meningkatkan volume produksi mereka. Kuwait telah membatalkan status force majeure, sementara Abu Dhabi National Oil Co. meminta pelanggan kembali mengambil pasokan dari dalam Teluk serta mulai menjual minyak mentah spot melalui tender.
Pada pukul 06.02 waktu Singapura, minyak Brent untuk kontrak penyelesaian Agustus tercatat naik 1,3 persen menjadi US$81,60 per barel. Pada saat yang sama, komoditas minyak mentah WTI untuk pengiriman Agustus juga mengalami kenaikan sebesar 2,3 persen ke posisi US$77,60 per barel.