Harga Minyak Dunia Turun Imbas Rencana Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran

Share

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan setelah Amerika Serikat dan Iran secara tentatif sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari pada Jumat, 29 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh munculnya optimisme bahwa aliran pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz akan segera kembali normal.

Pasar minyak mencatat variasi harga komoditas acuan yang melemah signifikan sepanjang bulan ini. Berdasarkan data yang dilansir dari Bloombergtechnoz, harga minyak mentah Brent merosot di bawah US$93 per barel yang menandai penurunan sebesar 18% bulan ini, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$88 per barel.

Meskipun demikian, kepastian formal mengenai kesepakatan ini masih menghadapi beberapa kendala di tingkat kepemimpinan negara. Presiden Donald Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan resmi terhadap ketentuan perjanjian tersebut, meski laporan dari Axios menyebutkan pengiriman melalui selat strategis tersebut akan berlangsung tanpa batas.

Perkembangan negosiasi ini memicu kehati-hatian dari jajaran pejabat tinggi pemerintah Amerika Serikat terkait kepastian kesepakatan akhir dengan pihak Teheran. Proses diplomasi yang dinamis membuat otoritas terkait memilih untuk tidak berspekulasi mengenai hasil akhir perundingan tersebut.

"kapan atau apakah" kesepakatan dengan Iran akan tercapai, kata Wakil Presiden JD Vance kepada wartawan.

Pernyataan senada yang menggambarkan situasi diplomasi saat ini juga disampaikan oleh pejabat keuangan Amerika Serikat mengenai interaksi antartim negosiasi. Proses diskusi intensif terus berjalan guna menjembatani perbedaan pandangan di antara kedua belah pihak.

"tim-tim tersebut telah berdiskusi bolak-balik" kata Menteri Keuangan Scott Bessent ketika ditanya apakah kesepakatan sementara telah tercapai.

Pelemahan harga minyak mentah sepanjang Mei dipicu oleh spekulasi pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan, meskipun sebelumnya kemajuan negosiasi sempat berulang kali berujung pada kebuntuan. Selama konflik berlangsung, pemblokiran Selat Hormuz oleh Washington dan Teheran telah memicu guncangan energi global yang menahan jutaan barel pasokan minyak harian.

Para pengamat hubungan internasional menilai proses perundingan ini berjalan secara bertahap menuju kesepakatan konkret. Ada indikasi kuat mengenai kesepahaman baru terkait penanganan blokade yang diterapkan oleh kedua negara.

“Kami perlahan dan dengan susah payah bergerak menuju apa yang digambarkan sebagai kesepakatan,” kata Aaron Stein, Presiden Foreign Policy Research Institute.

Ia menambahkan analisisnya mengenai dampak kesepakatan tersebut bagi struktur pemulihan hubungan kedua negara. Kunci perbedaan utama terletak pada mekanisme pencabutan pembatasan timbal balik yang disetujui bersama.

“Jika ini perpanjangan gencatan senjata, maka tidak ada yang berubah secara fundamental. Yang akan membedakan ini dari semua kesepakatan sebelumnya adalah tampaknya ada konsensus mengenai perlunya ‘lift-for-lift’ pada dua blokade tersebut.” kata Aaron Stein, Presiden Foreign Policy Research Institute.

Hingga saat ini, penyelesaian sejumlah poin krusial seperti program nuklir Republik Islam Iran, kendali Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi masih belum jelas. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut pembukaan jalur perairan dan penyerahan uranium yang sangat diperkaya oleh Iran menjadi poin penting yang disyaratkan oleh Trump.

Di pasar Asia, kontrak Brent untuk pengiriman Juli ditutup turun 0,8% menjadi US$92,94 per barel pada pukul 9.23 pagi di Singapura, sedangkan kontrak Agustus turun 0,3% ke US$92,42. Untuk komoditas WTI pengiriman Juli mengalami penurunan 0,8% menjadi US$88,17 per barel.

Potensi pemulihan aliran pasokan minyak mentah diprediksi tetap menghadapi kendala teknis dan logistik yang signifikan di lapangan meskipun kesepakatan tercapai. Hambatan tersebut meliputi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, pengaktifan kembali ladang minyak yang ditutup, perbaikan infrastruktur akibat serangan, hingga waktu perjalanan kapal tanker.

Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada volume ketersediaan pasokan komoditas di pasar internasional dalam jangka pendek. Para ahli strategi komoditas memproyeksikan adanya potensi kehilangan volume pasokan yang cukup besar selama masa pemulihan infrastruktur tersebut.

“Saya memperkirakan arus pasokan akan tetap sangat terbatas akibat jeda waktu perjalanan kapal tanker dan waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali produksi,” kata Ryan McKay, ahli strategi komoditas senior di TD Securities.

Ia juga memaparkan estimasi total volume pasokan yang berisiko hilang selama proses normalisasi berlangsung.

“Kita bisa kehilangan pasokan tambahan 1 miliar barel selama periode ‘pemulihan’.” kata Ryan McKay, ahli strategi komoditas senior di TD Securities.

Kondisi pasar energi di Amerika Serikat juga semakin diperketat oleh penurunan cadangan domestik di tengah krisis yang berlarut-larut. Data terbaru menunjukkan stok distilat merosot ke level terendah dalam dua dekade, sementara cadangan minyak mentah di pusat distribusi Cushing, Oklahoma, turun selama lima minggu berturut-turut menjadi 23 juta barel, mendekati batas minimum operasi sebesar 20 juta barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author