Hubungan Amerika Serikat dan Israel Menegang akibat Kesepakatan Iran
Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel mengalami ketegangan menyusul rencana kesepakatan Washington dengan Iran yang dinilai memberikan kendali strategis lebih besar kepada Teheran di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari ynetnews.com, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut memicu kekhawatiran karena memperkuat posisi Iran dan kelompok Hezbollah di Lebanon selatan. Iran bahkan dilaporkan telah melanggar kesepakatan dengan mengumumkan penutupan Selat Hormuz serta mengancam akan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Israel.
Di tengah situasi tersebut, delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan sedang menuju resort Bürgenstock di Swiss untuk melakukan pembicaraan yang melibatkan Qatar. Perdana Menteri Israel menyatakan pada hari Sabtu bahwa pihak Israel memilih untuk menahan diri dari serangan guna mengembalikan tanggung jawab situasi kepada pihak Iran.
Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyinggung kekhawatiran global terkait dampak ekonomi jika kesepakatan tersebut tidak berjalan. Masalah harga minyak dan potensi krisis ekonomi global menjadi alasan utama di balik kebijakan yang diambil oleh pemerintahannya saat ini.
"Even if I murder someone on Fifth Avenue, they would still vote for me," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan masa lalu tersebut dikutip kembali oleh pengamat untuk menggambarkan bagaimana posisi keras kepala pemerintah Amerika Serikat saat ini yang dinilai tetap tunduk pada dinamika politik Iran meskipun menghadapi berbagai pelanggaran di lapangan. Hingga saat ini, Israel dilaporkan masih berupaya mencari formula diplomatik yang tepat untuk menghadapi pelanggaran gencatan senjata oleh Hezbollah tanpa memicu eskalasi militer yang lebih luas.