IHSG Berbalik Melemah ke Level 6.220 pada Penutupan Perdagangan

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 0,55 persen atau turun 34 poin ke level 6.220 pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Pergerakan ini berbalik arah setelah indeks sempat dibuka menguat ke level 6.321 dan menyentuh titik tertinggi di posisi 6.377 karena pelaku pasar mencermati agenda suku bunga pekan ini.

Dilansir dari data RTI melalui detikfinance, nilai transaksi di pasar modal sepanjang hari ini mencapai Rp24,35 triliun dengan volume perdagangan mencapai 33,81 miliar lembar saham. Sebanyak 391 saham mencatat penurunan harga, 288 saham bergerak menguat, dan 137 saham lainnya stagnan.

Penurunan indeks ini juga dipengaruhi oleh pelemahan mayoritas indeks sektoral. Laporan idnfinancials mencatat sektor industri merosot paling dalam sebesar 2,15 persen, disusul oleh sektor teknologi yang melemah 1,29 persen pada perdagangan sesi pertama.

Meskipun IHSG parkir di zona merah, investor asing justru agresif melakukan aksi beli dengan mencatatkan pembelian bersih atau net buy senilai Rp2,59 triliun. Aliran dana asing tersebut paling banyak masuk ke sejumlah saham emiten BUMN, sementara aksi jual oleh investor asing menyasar saham-saham perusahaan konglomerasi.

Sebelumnya, indeks sempat dibuka naik 66,99 poin atau 1,07 persen ke level 6.321,96 pada pagi hari, didorong oleh sikap pelaku pasar yang mengantisipasi pengumuman suku bunga acuan. Perhatian pemodal tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan pertemuan komite kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan situasi pasar menjelang pengumuman dari otoritas moneter tersebut.

"Kiwoom Research sarankan sebaiknya tunggu break out level penting 6.300 sebelum memutuskan average up. Ingat bahwa kita masih ada beberapa event penting di pekan ini yang berpotensi timbulkan goncangan pasar (RDG BI, serta keputusan MSCI dan FTSE Russell)," kata Liza.

Liza menambahkan bahwa pelaku pasar global kini mulai mengambil posisi yang lebih defensif dengan mengurangi porsi investasi pada saham dunia. Penurunan alokasi juga terlihat pada sektor teknologi, sedangkan penempatan dana ke wilayah Jepang, sektor material, serta perbankan justru mengalami peningkatan.

"Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat. Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai," ujar Liza.

Ketidakpastian di pasar saham saat ini terjadi di tengah proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada tahun 2026. Sementara dari faktor eksternal, pasar mengantisipasi hasil pertemuan FOMC setelah survei menunjukkan peningkatan jumlah manajer investasi yang memperkirakan The Fed akan mengadopsi kebijakan hawkish.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author