IHSG Melemah ke 6.172 Sektor Infrastruktur Anjlok Paling Dalam

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,78 persen ke level 6.172,34 pada perdagangan Kamis (18/06), seperti dikutip dari Detik Finance.

Sebanyak 6 dari 11 sektor saham mengalami kemerosotan pada perdagangan tersebut. Sektor Infrastruktur mencatat koreksi terdalam hingga mencapai 1,96 persen.

Sebaliknya, sektor Industri Dasar tampil perkasa dengan mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 2,49 persen di tengah pelemahan indeks.

Pelemahan IHSG dipicu oleh koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BBRI turun 3,90 persen, TLKM ambles 6,08 persen, dan BBCA terpangkas 3,19 persen.

Namun, penurunan indeks tertahan oleh performa tiga saham penopang pasar. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melonjak 7,53 persen.

Selain itu, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 5,64 persen dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terangkat 4,76 persen.

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp 893,36 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp 111,56 miliar di seluruh pasar.

Kondisi pasar domestik berbanding terbalik dengan bursa saham Amerika Serikat yang kompak menghijau. Indeks Dow Jones naik 0,14 persen ke level 51.564.

Indeks S&P 500 melesat 1,08 persen ke posisi 7.500, sementara Nasdaq menguat hingga 1,91 persen ke level 26.517.

Pelaku pasar global juga sedang mencermati hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang mempertahankan Indonesia di status Emerging Market.

Namun, MSCI memberikan catatan minor dengan menurunkan penilaian kriteria Information Flow bagi Indonesia dari posisi "+" menjadi "-".

Indonesia disorot bersama Turki sebagai negara yang mengalami kemunduran aksesibilitas pasar pada siklus review kali ini.

MSCI menilai masih ada ketidakjelasan struktur kepemilikan saham serta indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga pasar wajar.

Hal ini dinilai membatasi institusi global dalam mengukur porsi saham free float yang riil untuk kebutuhan portofolio investasi mereka.

Ketersediaan informasi pasar modal berbahasa Inggris juga dirasa masih minim. Dampaknya, indeks ETF EIDO tergelincir 0,40 persen dan MSCI Indonesia jatuh 2,35 persen.

Hasil akhir dari MSCI 2026 Annual Market Classification Review dijadwalkan meluncur pada 23 Juni 2026 mendatang.

Rencana Aksi Korporasi PRDL dan MPPA

Persiapan IPO Prodia Diagnostic Line Tbk

PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Entitas Grup Prodia yang bergerak di bidang alat kesehatan diagnosis medis ini tengah berada dalam fase book building pada 18–23 Juni 2026.

PRDL menawarkan maksimal 522,90 juta saham baru atau setara 30,00 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Perseroan memasang rentang harga Rp 100–120 per saham dengan bidikan dana segar maksimal sebesar Rp 62,75 milar.

Struktur pemegang saham diisi oleh Prodia Utama sebesar 51,00 persen, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) 39,00 persen, dan Diasys Diagnostic Systems GmbH 10,00 persen.

Mayoritas dana IPO sebesar Rp 35,67 miliar (62,57 persen) akan dipakai melunasi pokok fasilitas kredit ke Bank Central Asia dan Bank Panin.

Sisa dana dialokasikan sebesar 28,92 persen untuk belanja modal (capex), dan 8,51 persen untuk modal kerja operasional perusahaan.

Rencana Rights Issue Matahari Putra Prima Tbk

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) berencana menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD VIII).

Aksi rights issue ini dilakukan dengan melepas hingga 23,99 billion saham baru pada harga pelaksanaan sebesar Rp 50 per saham.

Jika seluruh hak terserap, MPPA berpotensi meraup total dana mencapai Rp 1,20 triliun untuk belanja modal dan modal kerja.

Dana sebesar Rp 780,00 miliar difokuskan untuk belanja modal membeli aset properti strategis, sedangkan sisanya dialokasikan sebagai modal kerja.

Rasio HMETD yang ditetapkan adalah 114:211. Investor yang tidak mengeksekusi haknya akan terkena dilusi kepemilikan maksimal hingga 64,92 persen.

PT Multipolar Tbk (MLPL) bertindak sebagai pembeli siaga dan berkomitmen menyerap sisa saham tidak terjual hingga maksimal Rp 980,00 miIiar.

Aksi ini berpotensi mendongkrak kepemilikan saham MLPL di dalam MPPA dari semula 50,14 persen menjadi sebesar 80,15 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: emiten ihsg pasar modal saham
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author