IHSG Menguat Jelang Pengumuman Suku Bunga Acuan BI dan Fed
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona hijau pada Rabu (17/6/2026) pagi seiring sikap wait and see para pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga acuan domestik serta global.
Indeks saham nasional dibuka melonjak 66,99 poin atau sebesar 1,07 persen menuju level 6.321,96, sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut terangkat 5,46 poin atau 0,87 persen ke posisi 630,14.
Aktivitas pasar modal pekan ini dibayangi oleh sejumlah agenda krusial termasuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia serta pengumuman restrukturisasi indeks global dari MSCI dan FTSE Russell.
"Kiwoom Research sarankan sebaiknya tunggu break out level penting 6.300 sebelum memutuskan average up. Ingat bahwa kita masih ada beberapa event penting di pekan ini yang berpotensi timbulkan goncangan pasar (RDG BI, serta keputusan MSCI dan FTSE Russell),” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata.
Liza Camelia Suryanata menguraikan bahwa sentimen di pasar global saat ini masih berada dalam kondisi konstruktif walaupun beberapa kawasan mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda divergensi.
“Sebaliknya, alokasi ke Jepang, sektor material dan perbankan meningkat. Posisi long saham semikonduktor global menjadi crowded trade terbesar sepanjang sejarah survei dengan 80 persen responden menempatkannya sebagai posisi paling ramai,” ujar Liza Camelia Suryanata.
Berdasarkan data global, sebanyak 40 persen manajer investasi memproyeksikan The Fed bakal menaikkan suku bunga dalam setahun ke depan, sedangkan 55 persen responden meyakini Ketua The Fed Kevin Warsh akan bersikap hawkish dalam pertemuan FOMC tanggal 16-17 Juni.
Di pasar domestik, pergerakan sentimen dipengaruhi oleh proyeksi kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen pada Kamis (18/6) serta rencana pemerintah meluncurkan Panda Bonds demi memangkas ketergantungan terhadap dolar AS.
Antara News melaporkan Bank Dunia tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,0 persen untuk tahun 2026 yang ditopang oleh solidnya konsumsi dalam negeri, investasi, serta pengeluaran pemerintah.