Ikan Sapu-Sapu Menginvasi Sungai Ciliwung dan Menggerus Populasi Fauna Lokal

Share

Penyebaran ikan sapu-sapu di wilayah perkotaan Indonesia kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem air tawar. Spesies dari famili Loricariidae ini diduga telah mendiami perairan nusantara sejak tahun 1970.

Keberadaan fauna air ini banyak dilaporkan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung yang membentang dari Bogor hingga Jakarta. Asal-usul satwa ini dikabarkan berasal dari kawasan Amerika Selatan, tepatnya di Sungai Amazon.

Persaingan ketat antarspesies di habitat aslinya membentuk kemampuan adaptasi yang luar biasa pada ikan sapu-sapu. Karakteristik tangguh inilah yang membuatnya mudah mendominasi lingkungan baru saat bermigrasi.

Jalur perdagangan ikan hias diduga kuat menjadi pintu masuk utama satwa ini ke Indonesia, seperti dikutip dari Detikcom. Pada awalnya, ikan yang masuk dalam ordo Siluriformes ini diperkenalkan sebagai pembersih akuarium populer.

Masalah lingkungan mulai muncul ketika konsumsi ikan ini di dalam akuarium mengalami lonjakan. Hewan yang semula hanya memakan lumut dan alga ini mulai memangsa telur-telur ikan peliharaan lainnya.

Kondisi tersebut membuat para pemilik akuarium memilih untuk melepaskan satwa ini ke perairan terbuka. Salah satu lokasi yang menjadi tempat pembuangan massal adalah aliran Sungai Ciliwung.

Dampak pelepasan tersebut sangat fatal bagi keanekaragaman hayati lokal akibat sifat adaptifnya yang agresif. Pada tahun 2009, keanekaragaman fauna di Sungai Ciliwung merosot tajam dari 187 jenis menjadi tersisa 20 jenis saja.

Sejumlah satwa endemik kini menjadi sangat langka dan sulit ditemukan di habitatnya. Fauna yang terdampak antara lain ikan betutu, balida, gabus, ular, landak, kadal pari, labi-labi, hingga kepiting Malayopotamon javanense.

Pakar perikanan dan konservasi IPB University, Charles PH Simanjuntak, menyatakan bahwa pengendalian populasi memerlukan strategi khusus. Hal ini dikarenakan potensi reproduksi satwa invasif ini sangat masif.

Dalam satu siklus reproduksi, seekor induk betina mampu memproduksi hingga 19.000 butir telur. Proses perkembangbiakan ini bahkan dapat terjadi beberapa kali dalam periode satu tahun.

Tingkat keberhasilan penetasan telur satwa ini juga tergolong sangat tinggi karena mencapai angka 90 persen. Oleh sebab itu, regulasi ketat dari pemerintah daerah dinilai mendesak untuk diterapkan.

"Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis," ujarnya.

"Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak," tambahnya.

Upaya lain yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah adalah dengan mengintroduksi predator alami ke ekosistem. Jenis ikan lokal seperti baung dan betutu dinilai berpotensi menekan laju pertumbuhan populasi.

"Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author