Ilmuwan Petakan Jaringan Jamur Bawah Tanah yang Membentang Sepanjang Galaksi

Share

Jaringan jamur bawah tanah di planet Bumi berhasil dipetakan secara menyeluruh oleh para ilmuwan dan memunculkan sebuah fakta baru. Struktur tersembunyi ini memiliki bentangan yang sangat masif.

Jika ditarik menjadi satu garis lurus, panjang keseluruhan jaringan tersebut diperkirakan mampu menjangkau sistem bintang lain. Ukuran ini bahkan dapat melintasi sebagian besar wilayah galaksi Bima Sakti, seperti dilansir dari Detik iNET.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini memberikan fokus utama pada mikroorganisme jenis jamur mikoriza arbuskular. Komponen tersembunyi tersebut berfungsi sebagai penopang utama bagi tanah di Bumi.

Mikroorganisme ini memegang peran penting dalam mengalirkan air dan nutrisi. Selain itu, mereka berkontribusi menjaga stabilitas iklim dengan cara mengunci cadangan karbon dalam skala yang sangat besar.

Berdasarkan hasil studi, total bobot dari jaringan global ini diprediksi mencapai sekitar 300 megaton. Angka tersebut setara dengan empat hingga enam kali lipat dari total biomassa seluruh manusia di Bumi.

Sebanyak 40% dari keseluruhan massa jamur ini tersebar di kawasan lahan basah yang digenangi air serta padang rumput dataran tinggi. Salah satu contoh lokasinya berada di Taman Nasional Everglades, Florida.

Melalui publikasi temuan ini, para peneliti memiliki harapan besar agar masyarakat mulai menyadari peran krusial dari jaringan bawah tanah yang kerap terabaikan ini. Terlebih lagi, terdapat sekitar 70% kehidupan tanaman darat yang kelangsungan hidupnya bergantung penuh pada sistem ini.

"Orang-orang sama sekali tidak memperhatikan ekosistem ini," ungkap penulis studi, Toby Kiers, ahli biologi evolusioner di Vrije University Amsterdam sekaligus direktur Society for the Protection of Underground Networks (SPUN).

"I berharap temuan ini dapat memicu diskusi untuk perlindungan mereka, karena padang rumput liar menghilang sangat cepat. Area-area ini adalah kawasan yang benar-benar sedang dirusak manusia, karena jauh lebih mudah membabat rumput daripada menebang pohon," tambah penulis lain Justin Stewart, yang juga ahli biologi di SPUN.

Proses penyingkapan struktur bawah permukaan ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari lebih dari 16.000 sampel tanah. Data tersebut bersumber dari 300 karya ilmiah terdahulu yang pernah menghitung tingkat kepadatan lokal filamen jamur atau hifa di berbagai wilayah dunia.

Seluruh kumpulan informasi tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi machine learning. Sistem ini digunakan untuk memprediksi seberapa besar kepadatan jaringan hifa yang ada di setiap kilometer persegi lapisan tanah bagian atas.

Data pemodelan tersebut menunjukkan hasil yang masif, di mana Bumi terbukti diselimuti oleh lebih dari 110 kuadriliun kilometer hifa. Akumulasi jarak tersebut setara dengan hampir satu miliar kali lipat jarak bolak-balik antara Bumi dan Matahari.

Dalam perhitungan skala kosmik, bentangan tersebut setara dengan jarak hampir 12.000 tahun cahaya. Ukuran ini memenuhi sekitar sepersepuluh dari total diameter galaksi kita.

Hasil riset ini memberikan visualisasi paling gamblang mengenai besarnya peran jaringan jamur dalam menyokong kehidupan di daratan. Kendati demikian, tingkat kesehatan dari ekosistem jamur ini beserta ancaman yang mengintainya masih menjadi hal yang belum terpetakan sepenuhnya oleh model tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekosistem Lingkungan sains
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author