Indonesia Terpilih Jadi Anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Share

Indonesia terpilih menjadi anggota Komite Pelindungan Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO periode 2026-2030 dalam Sidang Umum ke-11 Negara-Negara Pihak Konvensi 2003 UNESCO di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, yang berlangsung pada 17-18 June lalu.

Keberhasilan tersebut diraih setelah Indonesia mengantongi 113 suara dari negara anggota UNESCO, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Di Grup IV yang mewakili kawasan Asia-Pasifik, Indonesia terpilih bersama Jepang yang meraih 117 suara, Filipina dengan 106 suara, dan Kamboja dengan 97 suara setelah bersaing dengan Korea Selatan serta Turkmenistan.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menilai pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi tata kelola kebudayaan global sekaligus bentuk kepercayaan internasional terhadap visi pelindungan warisan budaya Indonesia.

"Terpilihnya Indonesia sebagai anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026-2030 merupakan kehormatan sekaligus amanah besar. 12 tahun setelah terakhir kali menjadi anggota komite pada tahun 2010-2014, Indonesia kini kembali dipercaya oleh komunitas internasional untuk berkontribusi dalam upaya perlindungan warisan budaya takbenda dunia," ujar Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Menteri Kebudayaan menambahkan bahwa pencapaian ini membuktikan kapasitas negara dalam membangun tata kelola kebudayaan dunia yang inklusif, berkelanjutan, dan berpusat pada masyarakat.

"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa selain memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan beragam, Indonesia juga memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam membangun masa depan tata kelola kebudayaan dunia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpusat pada masyarakat," tambah Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Dominasi negara-negara ASEAN dalam representasi Asia-Pasifik periode ini dinilai strategis oleh Fadli Zon karena membuka peluang memperkuat kerja sama lintas kawasan dan memperluas suara negara berkembang. Dalam proses pemilihan, Indonesia membawa platform "Living Heritage, Shared Future" yang memosisikan masyarakat sebagai pusat penjaga budaya, keadilan budaya, partisipasi inklusif, serta inovasi digital.

Selaku anggota komite terpilih, Indonesia berkomitmen mendorong delapan agenda prioritas, termasuk pembentukan Center of Excellence UNESCO di Asia-Pasifik, integrasi platform kolaboratif, inovasi digital berbasis kecerdasan artifisial, penguatan kerja sama global, pelindungan tradisi terancam punah, peningkatan akses bantuan internasional, pemberdayaan masyarakat sipil, hingga ketahanan budaya terhadap perubahan iklim.

"Indonesia percaya bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan dialog, perdamaian, dan ketahanan masyarakat di tengah berbagai tantangan global saat ini," ujar Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Guna mewujudkan hal tersebut, pemerintah mendorong pelindungan berbasis komunitas, keterlibatan generasi muda, dan akses adil terhadap bantuan internasional terutama bagi negara kepulauan berkembang (SIDS) serta negara kurang berkembang (LDCs). Indonesia membawa modal pengalaman sebagai negara mega-diversitas yang memiliki lebih dari 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, 2.727 Warisan Budaya Takbenda nasional, serta 16 elemen yang telah diinskripsi UNESCO seperti Wayang, Batik, Reog Ponorogo, Kebaya, hingga Kolintang.

"Pengalaman ini menjadikan Indonesia memiliki posisi penting untuk berkontribusi dalam pengembangan kebijakan dan praktik pelindungan warisan budaya dunia," jelas Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Fadli Zon juga menegaskan keberhasilan diplomasi budaya ini merupakan hasil kerja keras sinergis antara Kementerian Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, KBRI Paris, KWRI UNESCO Paris, KNIU, dan seluruh pemangku kepentingan.

"Pencapaian ini merupakan buah dari sinergi yang kuat antara Kementerian Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO (KWRI UNESCO Paris), Sekretariat Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), serta seluruh pemangku kepentingan yang telah bekerja tanpa lelah menggalang dukungan dari negara-negara sahabat. Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi," ucap Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Pemerintah menyatakan siap menjalankan amanat internasional ini secara aktif dan kolaboratif demi kepentingan perdamaian dunia.

"Melalui Komite ICH UNESCO, Indonesia siap berperan sebagai jembatan kerja sama antar kawasan, mitra dalam berbagi pengetahuan, serta penggerak berbagai inisiatif yang memperkuat pelindungan warisan budaya di tingkat global," papar Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Langkah taktis ini dipastikan mengarah pada penguatan kohesi sosial dan pembangunan berkelanjutan global.

"Indonesia akan memastikan bahwa warisan budaya dapat terus memperkuat kohesi sosial dan solidaritas global, memperluas ruang dialog, serta menjadi kekuatan bagi perdamaian serta pembangunan berkelanjutan dunia," tutup Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author