Inflasi Tokyo Melambat Hambat Rencana Kenaikan Suku Bunga Jepang
Laju inflasi utama di Tokyo secara tidak terduga melambat ke titik terendah dalam empat tahun terakhir pada Mei 2026. Kondisi ini diperkirakan bakal mempersulit langkah para pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan pada bulan depan.
Data dari Kementerian Urusan Internal dan Komunikasi Jepang pada Jumat (29/5) menunjukkan, indeks harga konsumen (IHK) inti yang tidak memperhitungkan bahan pangan segar naik 1,3% secara tahunan. Capaian tersebut menandai penurunan laju inflasi selama enam bulan berturut-turut, sekaligus lebih rendah dari hampir seluruh estimasi ekonom, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Sementara itu, indikator inflasi yang mengecualikan bahan pangan segar dan energi meningkat 1,6%. Metrik ini dipantau ketat oleh BOJ sebagai tolok ukur inflasi mendasar karena memberikan gambaran tren harga yang lebih bersih tanpa distorsi subsidi pemerintah serta lonjakan harga pangan tahun lalu.
Secara keseluruhan, IHK total wilayah Tokyo naik 1,4% yang secara umum dipandang sebagai indikator awal bagi tren harga di tingkat nasional. Perlambatan IHK dipicu oleh harga pangan olahan yang tumbuh lebih lambat serta penurunan tajam tarif layanan air.
Di sisi lain, harga energi terus menurun berkat adanya subsidi bensin yang diterapkan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Perdana menteri bahkan berencana segera mengajukan anggaran tambahan ke parlemen untuk mempertahankan kebijakan pelonggaran tersebut.
Laporan ini membuktikan kesuksesan program pemerintah dalam meringankan biaya hidup masyarakat. Namun, situasi terbaru ini dapat mempersulit Gubernur BOJ Kazuo Ueda dalam menyusun argumentasi untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Juni mendatang.
Hingga Jumat pagi, para pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 80% bagi terjadinya kenaikan suku bunga pada rapat dewan gubernur tanggal 15–16 Juni mendatang berdasarkan data overnight index swaps. Padahal, Perdana Menteri Takaichi secara terbuka menunjukkan preferensinya terhadap kebijakan moneter yang longgar.
Takaichi baru-baru ini juga meminta tambahan anggaran untuk mendanai subsidi utilitas selama musim panas tanpa tambahan penerbitan obligasi pemerintah secara kalender. Namun, pasar tetap waspada terhadap potensi ekspansi belanja fiskal yang memicu aksi jual obligasi pemerintah Jepang.
Tantangan BOJ turut meningkat di tengah risiko inflasi di luar dampak perang setelah produsen makanan besar Jepang, Nippn Corp dan Showa Sangyo Co, mengumumkan kenaikan harga sejumlah produk mulai Agustus mendatang. Langkah tersebut menandakan perusahaan semakin berani meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Data lain menunjukkan harga sektor jasa naik 1,1% dibandingkan tahun lalu, sementara harga makanan di luar pangan segar meningkat 4,1%. Sementara itu, harga beras turun 1% setelah sempat melonjak hampir 94% pada tahun lalu.