Iran Ancam Serang Perusahaan Minyak AS Jika Dijatuhi Sanksi Ekonomi

Share

Pemerintah Iran memperingatkan negara-negara lain agar tidak bergabung dalam sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap negaranya pada Minggu (23/6/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pihak Teheran menegaskan akan menganggap negara yang berpartisipasi sebagai musuh.

Ancaman tersebut dilontarkan setelah Amerika Serikat mendesak sekutu-sekutunya untuk mendukung kampanye Donald Trump dalam mengisolasi perekonomian Republik Islam tersebut. Upaya pembatasan ekonomi itu digulirkan di tengah konfrontasi kedua negara yang telah memasuki bulan keenam.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, menyampaikan peringatan tegas tersebut secara langsung melalui siaran televisi pemerintah.

"Kami menyatakan kepada semua negara… jangan bergabung dalam perang ekonomi yang dikobarkan oleh Amerika Serikat," ujar Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai.

Rezai kemudian melanjutkan pernyatannya dengan memberikan penekanan terkait konsekuensi bagi pihak yang terlibat dalam aksi pembatasan tersebut.

"Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh," tambahnya.

Ia mengancam Iran akan merugikan kepentingan negara-negara tersebut apabila menolak menjauhkan diri dari pimpinan Washington. Selain itu, Rezai menyebutkan bahwa Iran masih menyimpan berbagai opsi strategis dalam merespons tekanan politik dan ekonomi AS.

"Sejauh ini, kami hanya menargetkan pangkalan militer, namun jika mereka ingin menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap kami, Amerika Serikat memiliki perusahaan minyak dan ekonomi di sekitar Iran maupun di tempat lain, dan kami akan menyerang perusahaan-perusahaan tersebut," ancam Rezai.

Di samping ancaman penyerangan pada sektor energi, ia memperingatkan dampak besar jika tensi ketegangan terus dinaikkan oleh pemerintah AS.

"Jika Trump 'mengambil tindakan, konfrontasi kami akan bagaikan gempa bumi,'" tambahnya.

AS sebelumnya telah meminta bantuan dari berbagai pihak termasuk China untuk memperketat isolasi ekonomi terhadap Iran. Namun, pemerintah China menolak permintaan tersebut dengan alasan sanksi tidak akan menyelesaikan krisis di Timur Tengah.

Sementara itu, Uni Emirat Arab yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran telah mengambil langkah tegas dengan menangguhkan seluruh transaksi perdagangan serta keuangan dengan Teheran hingga waktu yang belum ditentukan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author