Iran Apresiasi Kehadiran Dunia Islam dalam Pemakaman Ali Khamenei
Kementerian Intelijen Iran menyampaikan apresiasi mendalam kepada dunia Islam setelah seluruh rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selesai dilaksanakan pada Sabtu (11/7/2026). Prosesi pemakaman yang berlangsung di berbagai kota di Iran dan Irak tersebut dihadiri oleh jutaan pelayat serta delegasi internasional.
Dilansir dari Press TV, kementerian tersebut menyatakan bahwa kehadiran para pelayat dari berbagai negara seperti Lebanon, Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Turki, Kashmir, India, hingga Bahrain menunjukkan solidaritas yang abadi. Upacara penghormatan sendiri dimulai di Teheran pada 5 dan 6 Juli, dilanjutkan ke Qom, Najaf, Karbala, hingga pemakaman akhir di Makam Imam Reza di Mashhad pada 9 Juli.
"Pemakaman bersejarah tersebut mencerminkan kesetiaan dan kesadaran bangsa Islam dan memperbarui komitmennya terhadap cita-cita Islam," bunyi pernyataan Kementerian Intelijen Iran.
Kementerian tersebut juga memberikan pujian khusus kepada suku-suku dan lembaga keagamaan di Irak yang mengorganisasi prosesi dengan sangat masif. Hubungan erat ini dinilai semakin memperkuat posisi Poros Perlawanan di kawasan tersebut.
"Kita memperbarui perjanjian darah dan perjuangan kita dengan Pemimpin Revolusi Islam dan akan tetap berada di garis depan pertempuran melawan Amerika Serikat yang kriminal dan rezim Zionis pembunuh anak-anak," tambah pernyataan kementerian tersebut.
Di sela-sela rangkaian pemakaman di Mashhad pada Jumat (10/7/2026), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menerima kunjungan delegasi resmi dari Indonesia. Ghalibaf menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi tekanan internasional dan perundingan tidak langsung yang sempat terjadi.
"Kami tidak percaya pada orang-orang Amerika. Selama negosiasi, saya memperjelas kepada wakil presiden AS bahwa kami tidak memiliki kepercayaan pada Anda," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Ghalibaf menjelaskan bahwa negaranya tidak pernah menginginkan peperangan, tetapi mereka menolak untuk tunduk pada penindasan pihak asing. Kesiapan militer Iran dipastikan tetap berjalan penuh demi membela kedaulatan negara.
"Dalam pandangan saya, hanya mereka yang siap berperang yang dapat bernegosiasi dengan Amerika Serikat," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Ia menambahkan bahwa penandatanganan memorandum kesepahaman sebelumnya tidak membuat Iran mengendurkan kewaspadaan. Teheran selalu mengantisipasi potensi pelanggaran komitmen oleh pihak lawan.
"Kami tidak pernah berhenti bersiap untuk membela bangsa kami, dan kapan pun orang-orang Amerika mengkhianati kesepahaman tersebut, kami siap untuk pertahanan total," tutur Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Meskipun mengutamakan penghentian konflik sebagai prioritas, Ghalibaf menegaskan bahwa perdamaian tidak akan dicapai melalui kepasrahan negaranya. Ia juga memuji Indonesia sebagai bangsa yang konsisten melawan keangkuhan global.
"semua orang harus tahu bahwa konflik ini tidak akan pernah berakhir dengan menyerahnya Iran." tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf yang turut hadir dalam delegasi Indonesia menyatakan bahwa misi utama kunjungan ini adalah membawa pesan perdamaian. Utusan Indonesia dipimpin oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Menteri Luar Negeri Sugiono, serta perwakilan ormas Islam.
"Ketua MPR (Ahmad Muzani), selain menyampaikan belasungkawa atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, juga menyatakan bahwa pemerintah Indonesia berharap proses yang sedang berlangsung mengarah pada perdamaian. Di samping untuk takziah, delegasi ini memang diberi misi untuk mendorong dan menyerukan perdamaian," kata KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.
Gus Yahya menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama secara konsisten mengajak seluruh warganya untuk terus memohon keselamatan bagi bangsa Iran sejak awal ketegangan bermula. Kehadirannya di Mashhad menjadi representasi langsung dari rasa duka warga Nahdliyin.
"Saya menyampaikan bahwa saya mewakili seluruh warga Nahdlatul Ulama menyatakan belasungkawa atas wafatnya Sayyid Ali Khamenei. Sejak awal konflik, Nahdlatul Ulama telah menyerukan kepada seluruh warganya untuk terus mendoakan keselamatan dan kemaslahatan umat Islam, juga bagi Iran," ucap KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.
Melalui upaya diplomasi yang dijalankan oleh berbagai pihak, tokoh ulama ini berharap ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat segera mereda secara adil. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran juga diharapkan terus meningkat, terutama di sektor ekonomi.
"Semoga semuanya berakhir dengan perdamaian dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia," pungkas KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.