Pemerintah Iran Mengeksekusi Terpidana Mati Kasus Unjuk Rasa Majid Adineh

Share

Otoritas Iran mengeksekusi seorang pria bernama Majid Adineh pada Minggu, 23 Agustus 2026, setelah dituduh bertindak sebagai agen Israel dan Amerika Serikat serta membawa gergaji mesin dalam unjuk rasa antipemerintah. Hukuman mati tersebut dilaksanakan setelah Mahkamah Agung menolak upaya banding yang diajukan oleh terdakwa, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pihak kehakiman menyatakan bahwa Pengadilan Revolusioner Karaj menjatuhkan vonis eksekusi beserta penyitaan seluruh harta benda milik Adineh berdasarkan bukti-bukti dokumen dan pernyataan terdakwa.

Lembaga peradilan menilai Adineh bersalah atas tindakan operasional yang menguntungkan kelompok bermusuhan dalam gelombang demonstrasi nasional pada akhir tahun lalu.

Situs web kehakiman Mizan Online melaporkan tuduhan resmi terhadap terpidana pada hari Minggu. "Berdasarkan laporan tersebut, Adineh dituduh melakukan "pembakaran sengaja, serta berkumpul dan bersekongkol dengan niat melakukan kejahatan terhadap keamanan dalam negeri negara," demikian laporan situs web kehakiman Mizan Online pada hari Minggu."

Mizan menjelaskan bahwa putusan hukum tetap diproses hingga tahap akhir sebelum pelaksanaan vonis dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. "Berdasarkan berbagai dokumen dan bukti dalam kasus ini serta pernyataan terdakwa, Pengadilan Revolusioner Karaj menjatuhkan hukuman mati dan penyitaan seluruh hartanya," imbuhnya.

Pelaksanaan eksekusi tersebut dipastikan oleh media resmi milik lembaga peradilan Iran setelah seluruh proses banding selesai dilakukan. "eksekusinya dilaksanakan pada Minggu pagi," kata Mizan. Petugas menangkap Adineh bersama satu tersangka lain di Provinsi Alborz pada 9 Januari dengan menyita sejumlah barang bukti.

Mizan membeberkan rincian perlengkapan dan senjata yang ditemukan dari tangan terdakwa saat penangkapan terjadi.

Ia ditangkap saat membawa "sebuah pistol revolver, amunisi, dua alat kejut listrik (taser), two tabung gas air mata, gergaji mesin isi ulang, dan sebotol bensin," tambah Mizan. Gelombang demonstrasi di Iran bermula dari protes tingginya biaya hidup pada akhir Desember sebelum meluas menjadi aksi antipemerintah yang mencapai puncaknya pada awal Januari. Otoritas Iran mencatat lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan tersebut dan menuding aksi kekerasan didalangi oleh Amerika Serikat serta Israel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author