Iran Sebut Mendiang Senator AS Lindsey Graham sebagai Sosok Jahat
Pemerintah Iran memberikan respons keras terhadap kabar meninggalnya Senator senior Amerika Serikat pro-Israel, Lindsey Graham, yang selama ini dikenal memusuhi Teheran. Pihak Teheran secara terbuka menyebut politisi Partai Republik tersebut sebagai sosok yang jahat semasa hidupnya.
Komentar resmi tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dilansir dari Detikcom pada Senin (13/7/2026). Pernyataan ini muncul setelah media pemerintah Iran dan para pendukung rezim menyambut baik hingga merayakan kematian sang senator.
"Rakyat kami tidak akan berduka untuk sosok yang filosofi hidupnya adalah agresi dan intimidasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir AFP, Senin (13/7/2026).
Baghaei kemudian menambahkan penilaian pribadinya terkait rekam jejak Graham yang kerap mendorong aksi militer terhadap Iran.
"Keseluruhan dirinya dipenuhi dengan niat jahat," cetus Baghaei, merujuk pada sosok Graham.
Sebelum adanya pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri, sejumlah penyiar televisi pemerintah Iran pada Minggu (12/7) telah menyiarkan kegembiraan mereka atas wafatnya Graham. Salah satu pembawa acara bahkan secara terbuka menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat.
"Berita ini begitu manis hingga saya membacanya dua kali," ucap penyiar televisi pemerintah Iran tersebut.
Penyiar tersebut kemudian melanjutkan narasinya dengan menyebut bahwa kepergian sang senator merupakan hal yang positif bagi bangsa Iran.
"Saya mengucapkan selamat kepada bangsa Iran atas dikirimnya Senator AS Lindsey Graham, yang anti-Iran dan gemar mengobarkan perang, ke neraka," ujar penyiar Iran tersebut.
Selain tayangan televisi, media berhaluan keras di Iran juga ikut mempublikasikan konten yang mengejek mendiang legislator asal South Carolina itu. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah merilis tajuk utama yang menyindir ambisi politik sang senator terhadap Iran.
"Graham meninggal dunia, membawa ambisi penghancuran Iran bersamanya ke liang kubur," demikian bunyi headline kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, seperti dilansir The Times of India.
Sementara itu, Lindsey Graham dilaporkan meninggal dunia dalam usia 71 tahun pada Sabtu (11/7) malam waktu AS karena sakit mendadak. Kantor resminya menyatakan bahwa Graham wafat tidak lama setelah menyelesaikan kunjungan diplomatik ke Ukraina untuk bertemu Presiden Volodymyr Zelensky pada Jumat (10/7).
Semasa hidupnya, Graham merupakan sekutu dekat Donald Trump dan pendukung kuat invasi militer AS ke Irak serta aksi militer terhadap Teheran. Bulan lalu, Graham sempat melontarkan ancaman militer serius terhadap Iran saat berbicara dalam wawancara bersama CBS.
Dia mengatakan kepada CBS bahwa AS akan "meluluhlantakkan" Iran jika negara itu tidak tunduk pada kendali AS atas Selat Hormuz.
Kematian Graham juga mengundang duka cita dari para sekutunya, termasuk Donald Trump yang memujinya sebagai patriot sejati. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menyampaikan belasungkawa dan menyebut Graham sebagai salah satu sahabat terbesar Israel.