Iran Tutup Selat Hormuz Akibat Serangan Israel di Lebanon

Share

Komando militer gabungan Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026) akibat kelanjutan serangan militer Israel di Lebanon serta kegagalan Amerika Serikat dalam menerapkan poin awal kesepakatan damai. Langkah tegas Teheran ini membayangi persiapan perundingan tingkat teknis antara delegasi Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Bürgenstock, Swiss, dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar. Otoritas militer Amerika Serikat segera merespons klaim sepihak tersebut dengan menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional di selat strategis itu tetap beroperasi normal di bawah pengawasan ketat pasukannya.

“Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” kata Capt. Tim Hawkins, juru bicara Komando Sentral AS (CENTCOM) dilansir dari CNN.

Pihak militer Amerika Serikat memastikan situasi di jalur perairan tersebut tetap aman bagi lalu lintas perdagangan global. “Jalur aman melalui perairan internasional tetap utuh hari ini saat 55 kapal dagang transit, memindahkan sejumlah besar kargo dan lebih dari 17 million barel minyak ke pasar global,” sebut CENTCOM dalam unggahan di media sosial X.

Pihak komando menegaskan kesiapan armada mereka untuk mengawal implementasi seluruh poin kesepakatan bilateral. “Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, ditaati, dan berlaku penuh,” tambah CENTCOM.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan Teheran menuntut kepatuhan penuh dari pihak Washington sebelum pembicaraan final dapat dimulai. “Perjalanan ini oleh karena itu adalah tentang menuntut pihak lain memenuhi kewajibannya,” ujar Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dikutip dari AP News. Baghaei memperingatkan adanya risiko besar terhadap kelanjutan nota kesepahaman jika komitmen tersebut diabaikan.

“Jika tidak, maka nota kesepahaman secara keseluruhan akan terancam,” tambah Esmaeil Baghaei.

Sementara itu, persiapan logistik terus berjalan di Swiss seiring kedatangan sejumlah pejabat tinggi untuk mengoordinasikan jalannya diplomasi. “Kami akan merencanakan pembicaraan ketika para pimpinan dari pemerintah Iran, juga pemerintah Qatar dan Pakistan, tiba,” kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat dalam wawancara bersama Fox News. Vance menekankan perlunya fleksibilitas dalam mengatur jadwal pertemuan bilateral yang dinamis ini.

“Itu mungkin terjadi segera besok, tetapi hal-hal seperti ini selalu sedikit berubah-ubah,” tambah JD Vance.

Dari wilayah Lebanon, agresi militer Israel dilaporkan telah merenggut nyawa warga sipil dan aktivis lingkungan setempat, termasuk Mona Khalil yang aktif melindungi penyu langka. “Meninggal akibat luka-luka yang dialami dalam serangan Israel di rumahnya di pantai Mansouri,” tulis LSM lokal Green Southerners di media sosial Instagram.

Mona Khalil sempat menegaskan dedikasinya terhadap kelestarian alam Lebanon selatan dalam sebuah profil yang dirilis satu dekade silam. “Proyek ini adalah impian saya sejak kecil. Saya mencintai pantai dan tanah di sini,” kata Mona Khalil saat itu kepada CNN.

Di koridor diplomatik regional, Pakistan menegaskan posisinya untuk mengawal kelanjutan piagam kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya. “Pakistan akan terus memfasilitasi proses dalam perannya sebagai mediator, dengan pandangan untuk memajukan kesepahaman yang dicapai berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad,” sebut Kementerian Luar Negeri Pakistan. Ketegangan di lapangan tercatat terus meningkat setelah serangan udara Israel di wilayah Nabatiyeh dan desa sekitarnya menewaskan sedikitnya 16 orang.

Duta Besar Israel untuk Washington Yechiel Leiter menyatakan posisi negaranya terkait upaya penghentian kontak senjata.

“Tetap berkomitmen teguh pada gencatan senjata segera,” kata Yechiel Leiter, Duta Besar Israel untuk Washington pada Jumat. Hingga saat ini, pertempuran di perbatasan Lebanon selatan masih terus terjadi sementara perekonomian global mengantisipasi dampak dari ketidakpastian di Selat Hormuz.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author