Irvan Tan Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Keripik Sayur

Share

Seorang mantan pegawai bank bernama Irvan Tan sukses membangun bisnis camilan sehat Crispy Salad hingga meraup omzet ratusan juta Rupiah per bulan setelah memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya kantoran.

Dilansir dari Detikcom, usaha yang memproduksi keripik sayur dan buah tanpa bahan kimia berbahaya tersebut kini berlokasi di Sunter, Jakarta Utara, dan produknya telah tersebar di berbagai supermarket serta puluhan reseller di Indonesia.

Ide bisnis ini berawal dari keinginan pribadi lulusan University of California, LA, Amerika Serikat tersebut untuk mengonsumsi sayuran dengan cara yang lebih praktis dan lezat, yang kemudian dikembangkan melalui riset mendalam mengenai teknologi pengeringan pangan.

"Awalnya kita mulai dari pengin hidup sehat secara pribadi. Dulu saya pekerja kantoran, jadi secara pribadi mau hidup sehat, jadi mulai nih research teknologi yang ada bagaimana bisa bikin makan sayur lebih enak, lebih praktis," kata Irvan saat ditemui di kawasan PIK, Rabu (17/6/2026).

Setelah melakukan riset, Irvan mulai menguji pasar dengan mengikuti bazar saat dirinya masih berstatus sebagai karyawan bank.

"Saya itu dulu di bank, resign. Jadi begitu bazarnya jalan, habis kita riset, udah oke barangnya, masih pegawai bank tuh, habis gitu kita bazar. Demandnya oke udah saya resign, kelihatan pasarnya," ujar Irvan.

Pada awal peluncuran di akhir tahun 2015, produk olahan sayur buatan Irvan hanya mengandalkan sistem pra-pesan (pre-order) karena daya simpan produk yang sangat terbatas.

"Nah, jadi kita setelah bazar itu actually balik ke R&D (research and development) untuk perpanjang shelf life-nya. Awalnya produk ini cuma tahan 1 hari. Jadi kita itu kan tanpa pengawet, jadi benar-benar kita itu hanya bisa fokus di kemasan dan processingnya.

Nah, setelah itu kita bisa 3 bulan, bisa 9 bulan, sekarang bisa setahun ya. Sekarang bisa tahan setahun sampai 2 tahun, tergantung variannya," tutur Irvan.

Melalui perluasan masa simpan tersebut, volume penjualan Crispy Salad terus meningkat secara signifikan seiring dengan masuknya produk ke jaringan ritel modern.

"Untuk di awalnya sih kita mulainya di 2015 akhir itu kan kita baru bazar ya, itu kecil lah, mungkin bazarnya kalau dibilang omzet awal sih mungkin belasan juta per bulan lah ya, jutaan, belasan juta per bulan, kecil, dan itu juga tidak konsisten karena kita itu shelf lifenya cuma 1 hari. Jadi kita itu setelah bazar itu kita itu hanya open by PO," sebut Irvan.

Peningkatan kualitas kemasan dan proses produksi membuat omzet usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini melonjak drastis dari angka belasan juta menjadi ratusan juta Rupiah.

"Setelah itu kita riset lagi, di 2016 kita bisa berhasil panjangin ke 3 bulan, 3 bulan masuk ke supermarket di akhir 2016-2017 itu sudah bisa masuk supermarket. Itu omzet kita sudah berkisar di sekitar 70-an juta, kalau sekarang di sekitar 200-an juta lah," tutur Irvan.

Selain menyasar supermarket, pemasaran produk Crispy Salad di luar kota juga ditopang oleh puluhan mitra dagang yang bergerak di segmen perlengkapan anak.

"Yang aktif mungkin 50-60 lah ya, 50-60 seluruh Indonesia. Jadi kalau di luar kota kita itu sistemnya tuh reseller, jadi mereka beli putus ya, beli putus. Jadi kebanyakan di luar kota sih ada lah, kebanyakan toko baby. Reseller kita kebanyakan toko baby," ujar Irvan.

Untuk memperluas skala usaha dan jaringan pemasaran, Irvan memutuskan bergabung menjadi pelaku usaha binaan di lembaga pemberdayaan milik perusahaan BUMN.

"Kalau rumah BUMN, kalau dengan BRI kita join mungkin 2024 kita mulai join. BRI kan yang menaungi Rumah BUMN daerah Jakarta. Nah, kita jadi salah satu binaannya," sebut Irvan.

Langkah bergabung tersebut diambil demi mendapatkan pengetahuan manajemen dan memperluas akses pasar yang lebih profesional.

"Dari itu kita diundang untuk masuk ke rumah BUMN BRI ya. Kita sendiri merasa masih banyak yang perlu kita kembangkan, makanya kita itu terbuka untuk banyak menjadi binaan. Jadi, ada banyak instansi yang actually kita join soalnya kita sadar masih banyak yang perlu kita improve nih untuk bisa membesarkan skalanya kita," sebut Irvan.

Melalui program pembinaan tersebut, Irvan mendapatkan berbagai fasilitas pameran yang membantunya memperkenalkan produk hingga ke tingkat internasional.

"Jadi dari sisi pameran itu yang dicari dan inilah ya yang paling diharapkan lah, akses ke pemasaran yang lebih besar," sebut Irvan.

Sebelum bersiap mengikuti agenda pameran di Korea Selatan pada pekan depan, produk Crispy Salad tercatat sudah pernah dipamerkan di beberapa negara lain sejak dua tahun terakhir.

"Kita itu sebelumnya sudah pernah pameran di Malaysia, kita pernah di Saudi Arabia sama Turki bareng kita. Yang Malaysia sama Saudi di 2024, yang 2025 di Turki," kata Irvan.

Keikutsertaan dalam pameran di Turki terjadi setelah produk keripik sayur ini menarik perhatian perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.

"Kalau yang Turki itu kemarin waktu kita pameran di Jakarta ketemu sama Adag, Atase Perdagangan di Turki. Dia lihat produk kita lumayan tertarik, akhirnya kita itu dibawa ke Turki untuk diikutin pamerannya, produk kita diikutin oleh pameran oleh Adagnya Turki," imbuh Irvan.

Pihak pengelola Rumah BUMN Jakarta menegaskan bahwa program pendampingan difokuskan untuk mendorong kapabilitas digital para pelaku usaha agar mampu menembus pasar global.

"Jadi kita mendorong ke digitalisasinya. Tapi memang enggak menutup kemungkinan UMKM-UMKM yang potensial untuk ekspor, kita dorong ke go global-nya," kata Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana.

Fasilitas yang disediakan mencakup peningkatan keterampilan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, hingga penyediaan jaringan permodalan bisnis.

"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author