Isolasi Sosial Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke
Laporan terbaru American Heart Association mengungkapkan bahwa isolasi sosial serta kesepian mampu memicu peningkatan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung hingga stroke pada Sabtu (20/6/2026), dilansir dari Detik Health.
Data penelitian selama lebih dari empat dekade membuktikan adanya keterkaitan kuat antara keterputusan sosial dengan dampak buruk bagi kesehatan. Risiko serangan jantung atau kematian akibat komplikasi jantung meningkat sebesar 29 persen, sementara bahaya stroke naik hingga 32 persen.
"Mengingat tingginya prevalensi keterputusan sosial di seluruh Amerika Serikat, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sangat signifikan," kata ketua tim penyusun laporan, Crystal Wiley Cene.
Kondisi isolasi sosial didefinisikan sebagai keadaan minimnya kontak langsung dengan sesama manusia, sedangkan kesepian merupakan tekanan psikologis akibat merasa terasing. Cene memaparkan bahwa dampak buruk fenomena ini juga memperburuk prognosis kesehatan pasien.
"Ada bukti kuat yang menghubungkan isolasi sosial dan kesepian dengan meningkatnya risiko kesehatan jantung dan otak yang buruk secara umum. Namun, data mengenai kaitannya dengan beberapa kondisi tertentu, seperti gagal jantung, demensia, dan gangguan kognitif, masih terbatas," ujar Cene.
Secara demografis, kelompok dewasa muda berusia 18 hingga 22 tahun kini menjadi generasi yang paling kesepian dibandingkan kelompok pensiunan. Pola ini diperparah oleh tingginya durasi penggunaan media sosial serta minimnya aktivitas tatap muka, yang semakin memburuk sejak pandemi COVID-19.
Keterputusan hubungan dengan lingkungan sekitar ini turut mendorong individu menjalani kebiasaan yang merusak organ vital. Perilaku negatif tersebut meliputi minimnya konsumsi buah dan sayur, kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya kebiasaan duduk atau gaya hidup sedentari.