Israel Tegaskan Kemandirian Strategis di Tengah Kritikan Amerika Serikat
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan sikap tegas negaranya terhadap kebijakan Amerika Serikat pada Sabtu (20/6/2026), dilansir dari Detikcom. Penolakan Tel Aviv atas kesepakatan damai dengan Iran memicu ketegangan diplomatik serta teguran tajam dari Washington terkait posisi Israel sebagai sekutu.
"tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan" ujar Katz, Menhan Israel.
Katz merespons kritikan AS terhadap sikap Israel yang menolak kesepakatan damai dengan Iran. Ia menekankan bahwa negaranya siap mengambil tindakan tegas demi keamanan nasional.
"Jika Iran menyerang kami, kami akan bertindak segera dan merespons dengan kekuatan. Tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami telah membuktikannya," tegas Katz, Menhan Israel.
Pihak militer Israel kini tengah memperkuat posisi pertahanan nasional mereka untuk mengantisipasi potensi ancaman di masa depan. Persiapan infrastruktur keamanan menjadi prioritas utama saat ini.
"Semua kemampuan ada dan sedang dibangun," imbuh Katz, Menhan Israel.
Katz menegaskan kemampuan Israel untuk menghadapi berbagai front konflik secara mandiri tanpa memerlukan bantuan langsung pasukan sekutu. Mereka berfokus pada kekuatan internal untuk melawan ancaman regional.
"Kami tidak pernah meminta AS untuk berperang bersama kami melawan Hizbullah di Lebanon, melawan elemen-elemen jihadis di Suriah, atau melawan Hamas di Gaza. Kami melakukannya sendiri," ucap Katz, Menhan Israel.
Pemerintah Israel tetap mengharapkan dukungan diplomatik dari Washington dalam menghadapi tantangan keamanan yang berlangsung di kawasan regional. Mereka menginginkan payung politik, bukan keterlibatan militer langsung.
"Kami mengharapkan, dan masih mengharapkan, bahwa AS akan mendukung hak kami dan memberikan kami payung diplomatik, bukan payung militer, untuk bertindak melawan semua musuh ini," ujar Katz, Menhan Israel.
Komitmen untuk mempertahankan zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza menjadi prioritas bagi Israel. Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kedaulatan negara dari infiltrasi musuh.
"Di Lebanon, di Suriah, dan di Gaza, kami tidak akan pindah dari zona keamanan. Tidak di Suriah, tidak di Gaza, dan tidak di Lebanon, kami tidak akan meninggalkan tempat itu dalam situasi apa pun," tegas Katz, Menhan Israel.
Pernyataan tersebut muncul di tengah penolakan Israel terhadap nota kesepahaman antara AS dan Iran. Respons keras kemudian datang dari Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengecam sikap para pejabat pemerintahan Tel Aviv.
"Jika saya berada dalam kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di seluruh dunia," tegas JD Vance, Wapres AS.
Vance menyinggung kontribusi besar AS dalam menjaga stabilitas pertahanan Israel melalui bantuan militer yang signifikan selama beberapa bulan terakhir. Ia menilai bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata dari Washington.
"Selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air Anda telah dibangun oleh tangan Amerika dan dibayar dengan uang pajak Amerika," tegas JD Vance, Wapres AS.
Ia memperingatkan agar pemerintah Israel mengubah pandangan terhadap sekutu utama mereka di Washington demi menjaga stabilitas hubungan kedua negara. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi tantangan keamanan global.
"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari kenyataan situasi yang dihadapi negara tersebut," ucap JD Vance, Wapres AS.
Perselisihan diplomatik ini mencerminkan perbedaan pandangan yang signifikan mengenai strategi keamanan di Timur Tengah antara Washington dan Tel Aviv.