ITS Klarifikasi Kasus Pencatutan Nama Lembaga dalam Dugaan Riset Palsu
Departemen Teknik Biomedik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memberikan klarifikasi mengenai pencatutan nama lembaga dalam kasus dugaan riset palsu. Kasus yang menyeret sekelompok warga negara Indonesia ini mencakup sejumlah judul riset yang mengatasnamakan Teknik Biomedik ITS.
Klarifikasi ini muncul setelah seorang mahasiswa Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat, membagikan arsip yang membongkar kasus tersebut. Dilansir dari Detikcom, terdapat 12 judul riset yang mencatut nama departemen tersebut dengan daftar penulis yang berulang.
Beberapa judul riset tersebut di antaranya "AI-Fused Satelite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities" dan "Household 'Super-Caregivers' as Silent Connectors Pneumococcal Carriage Between Young Children and Frail Grandparents in Multigenerational Family Compounds in Low-income Urban Neighbourhoods". Penulis yang tercantum meliputi Dimas Fajar Prasetyo, Hardina Putri, Riana Dwi Kurniawati, Aminatus Saadah, Rani Sulvianuri, Wildan Syahputra, Ayuni Kemala Safira, Daffa Pramuadi, dan Mariani Mariani.
Judul penelitian lain yang dicatut juga membahas topik serupa terkait kesehatan urban dan vaksinasi pneumokokus di wilayah berpenghasilan rendah. Nama-nama penulis di atas bergantian mengisi daftar tim peneliti pada belasan dokumen studi yang dipalsukan tersebut.
Melalui akun Instagram resmi, pihak Teknik Biomedis ITS menyatakan bahwa saat ini tengah beredar berita yang mencoreng integritas penelitian, khususnya dalam publikasi konferensi ilmiah. Terlebih lagi, departemen tersebut ikut dikaitkan sebagai pihak yang terlibat.
"Sehubungan dengan informasi yang beredar terkait salah satu publikasi, perlu kami sampaikan bahwa: 1. Individu yang bersangkutan bukan merupakan civitas akademik Departemen Teknik Biomedik ITS. 2. Perbedaan penyebutan seperti "School of Biomedical Engineering" tidak merujuk pada Department of Biomedical Engineering ITS. 3. Departemen Teknik Biomedik ITS berkomitmen untuk selalu menjunjung tinggi integritas dan etika dalam penelitian." tulis pihak Teknik Biomedis ITS.
Pihak departemen kembali menekankan dedikasi mereka terhadap etika ilmiah. Pihak institusi juga mengimbau publik untuk bersikap kritis dalam menyaring segala informasi yang beredar.
"Kami menegaskan bahwa Departemen Teknik Biomedik ITS selalu mengutamakan integritas serta menjauhi segala bentuk tindakan yang tidak sesuai dengan etika akademik. Tetap bijak dalam menyikapi informasi dan jangan lupa untuk selalu memvalidasi berita yang diteruma agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar." tambah pihak Teknik Biomedis ITS.
Terbongkarnya kasus ini berawal dari pelaksanaan International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026 lalu. Wa Ode Dwi Daningrat, yang merupakan mahasiswa S3 asal Indonesia di Oxford University, mengungkap kejanggalan konferensi tersebut melalui media sosial.
Pada salah satu sesi ISPPD, sebuah riset dijadwalkan dipresentasikan oleh Riana Dwi Kurniawati. Seorang perempuan kemudian naik ke atas panggung untuk membawakan materi dan memperkenalkan diri menggunakan nama Riana.
Namun, keanehan terjadi sekitar 10 menit kemudian pada sesi yang berbeda. Perempuan yang sama kembali tampil dengan jilbab yang sudah berganti.
Kali ini, ia menggunakan identitas sebagai Dimas Fajar Prasetyo untuk mempresentasikan penelitian yang berbeda. Dwi menceritakan bahwa perempuan tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama Dimas di depan forum.
Dwi kemudian melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai sosok perempuan yang menjadi pemateri tersebut. Hasil investigasi menunjukkan bahwa identitas asli pembicara itu adalah Prihantini, dan namanya sama sekali tidak terdaftar dalam deretan penulis riset yang ia presentasikan.