JD Vance Rilis Buku Memoir Keagamaan Berjudul Communion

Share

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance resmi meluncurkan buku memoir keagamaan terbaru berjudul "Communion: Finding My Way Back to Faith" pada Selasa, 16 Juni 2026.

Buku tersebut mengisahkan perjalanan spiritual Vance dari masa kecil di lingkungan Protestan, menjadi ateis saat kuliah, hingga akhirnya dibaptis menjadi Katolik pada tahun 2019.

Peluncuran buku ini memicu berbagai analisis dan kritik dari berbagai media mengenai konsistensi keimanan serta dampaknya terhadap posisi politik Vance menjelang pemilu presiden tahun 2028.

Kritik tajam muncul dari pengamat yang menilai buku ini memiliki beberapa kejanggalan ilustrasi dan muatan teologis, termasuk penggambaran gereja Methodist pada sampulnya.

Vance juga sempat mendapat sorotan setelah penampilannya di program "The View" ABC serta perbedaan pandangannya dengan beberapa kebijakan Vatikan terkait imigrasi dan perang.

Di sisi lain, Vance menegaskan bahwa perjalanan spiritualnya didorong oleh pencarian makna hidup yang lebih mendalam setelah merasa kesuksesan finansial dan akademik tidak membuatnya menjadi pribadi yang baik.

Vance juga menceritakan peran besar istrinya, Usha, yang terus mendukung aktivitas ibadahnya meskipun sang istri sendiri merupakan seorang pemeluk agama Hindu.

"I didn’t meet Jesus on my way to Damascus," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat dalam bukunya.

Vance mengungkapkan bahwa perpindahan agamanya berjalan melalui proses perenungan bertahun-tahun yang beralih dari satu denominasi ke denominasi lain.

"For an evangelical, the weirdest Catholic sacrament may be the rite of confession and reconciliation," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Dia mengakui beberapa ritual Katolik pada awalnya terasa asing bagi latar belakang Protestan yang dimilikinya selama ini.

"The idea of speaking of my sins to a stranger mortified me." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Kekhawatiran itu sempat muncul sebelum dia sepenuhnya memantapkan diri menerima sakramen dalam tradisi gereja Katolik Roma.

"This was always a little weird to me as a Protestant: You guys actually think this bread converts to the body of Christ?" tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Pandangan tersebut mencerminkan pergulatan pemikiran teologis yang dia rasakan sebelum secara resmi berpindah keyakinan.

"but they draw the line at consulting dead people—‘Holy Mary, Mother of God, pray for us sinners, now and at the hour of our death.’" tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Vance menyoroti perbedaan persepsi antara kaum Protestan dan Katolik mengenai doa-doa syafaat kepada orang suci.

"Trump is cultural heroin," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016.

Pernyataan masa lalu tersebut kontras dengan posisinya saat ini sebagai wakil dari Donald Trump dalam pemerintahan Amerika Serikat.

"He makes some feel better for a bit. But he cannot fix what ails them, and one day they’ll realize it." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Kritik lawas itu kerap diungkit media untuk mengukur konsistensi sikap politik dan personal sang wakil presiden.

"In some ways, my Senate run was a quirky intellectual project: an effort to make what I thought were more explicitly Christian arguments about the economy," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Vance menganggap langkah politiknya di masa lalu merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan yang diyakininya.

"I focused less on abstractions like the GDP and more on the dignity of workers and the jobs they did." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Fokus ekonomi berbasis nilai kristiani tersebut menjadi dasar kampanye legislatifnya sebelum menduduki kursi wakil presiden.

"Time to shit or get off the pot." kata Mamaw, Nenek JD Vance sebagaimana ditirukan oleh Vance.

Kalimat dari mendiang neneknya itu diakui Vance menjadi pendorong spiritual yang menguatkan keputusannya saat prosesi baptis.

"The Christian faith I’d developed by the time I was fifteen was adversarial: disengaged from mainstream culture, even terrified of it," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Pengalaman masa remaja di gereja pentakosta membentuk karakter keagamaan awal yang cenderung menarik diri dari budaya populer.

"I was really worried about where I went to school and what kind of job I had and what kind of money that I made. But I felt like that wasn't making me a good person, whereas the Christians in my life seem to have it figured out," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Pernyataan ini disampaikan Vance saat menjelaskan motivasi utamanya kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dan memilih jalur Katolik.

"There have been so many people who have been very good to me, but I just felt at home in the churches that I was going to with my Catholic friends and that's a big part of why I converted," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Hubungan pertemanan dengan komunitas Katolik diakui memberikan rasa nyaman yang tidak dia temukan di tempat lain.

"Some of those people call the Catholic Church their home. So I'd go to church with them or I'd talk to them about various things that were on my mind… sometimes God puts people in front of you," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Kehadiran orang-orang di sekitarnya dipandang sebagai petunjuk spiritual yang mengarahkan keyakinannya saat ini.

"Do I hope eventually that she is somehow moved by the same thing that I was moved by in church? Yeah, I honestly do wish that," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat pada Oktober lalu.

Harapan tersebut memicu kontroversi karena dinilai sebagian pihak dapat memperkeruh sentimen terhadap komunitas Hindu di Amerika Serikat.

"She definitely participates in the rituals of the church with us, and I really love that. That's part of our family life that is very good. Whether we do church at home or whether we go out to a church, she's the person who's helping me get the kids ready, and the kids are always late, and it takes forever to get their shoes on." kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Terlepas dari perbedaan keyakinan, Vance menegaskan bahwa istrinya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan iman keluarga mereka sehari-hari.

"Even though she's not a Christian, she's been very much a part of my faith journey in ways big and small," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Pernyataan penutup tersebut menegaskan apresiasi Vance terhadap toleransi dan kebersamaan yang dibangun di dalam rumah tangganya.

Kritik dari perwakilan Demokrat, Raja Krishnamoorthi, sempat mengemuka menanggapi komentar Vance mengenai harapan konversi istrinya.

"At a time when Hindu and Indian-American communities are confronting a climate of rising prejudice, talk of mass deportations, and growing anti-Hindu sentiment—even against members of his own party—it’s deeply disappointing that the Vice President would add to that climate through his recent comments while remaining silent in the face of hate," tulis Raja Krishnamoorthi, Anggota DPR AS dari Fraksi Demokrat di media sosial X.

Pernyataan Krishnamoorthi menjadi salah satu resistensi politik yang dihadapi Vance seiring dengan rilisnya buku memoir keagamaan ini di ruang publik Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author