Banyak Jomblo Tolak Keterlibatan AI dalam Aplikasi Kencan
Integrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada aplikasi kencan justru memicu rasa tidak nyaman bagi pengguna yang berstatus lajang. Berdasarkan survei terbaru dari Match Group, para jomblo tidak menginginkan teknologi AI terlibat terlalu jauh dalam urusan romantis mereka. Padahal, pengembang aplikasi kencan saat ini sudah masif menyematkan AI untuk menyusun profil, memilih foto terbaik, hingga membuat percakapan.
Dalam survei yang melibatkan 1.000 responden berusia 18 hingga 39 tahun, sebanyak 47% lajang menunjukkan pandangan negatif terhadap adopsi AI dalam konteks hubungan asmara.
Fenomena penolakan ini mengemuka di tengah langkah agresif para pengembang aplikasi seperti Tinder, Hinge, dan Bumble yang terus menambah fitur berbasis AI, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz yang mengutip TechCrunch pada Jumat (19/6/2026). Penolakan paling besar dari para responden tertuju pada ide menjalin hubungan dengan AI atau menggunakan aplikasi pendamping berbasis chatbot.
Data survei menunjukkan sekitar 40% responden enggan berkencan dengan seseorang yang memanfaatkan aplikasi pendamping AI. Angka penolakan tersebut bahkan melonjak hingga 51% pada kelompok perempuan yang berada di usia 18 hingga 24 tahun.
Di sisi lain, hanya 12% responden berumur 18 hingga 24 tahun yang mengaku pernah menggunakan aplikasi sejenis dalam waktu tiga bulan terakhir. Dari persentase kecil tersebut, hanya sekitar sepertiga responden yang menyatakan benar-benar mencari kedekatan emosional dengan chatbot.
AI Hanya Sebatas Alat Bantu
Kendati demikian, hasil riset ini memperlihatkan bahwa pengguna tidak sepenuhnya anti terhadap kehadiran teknologi tersebut.
Sebanyak 64% responden masih melihat nilai positif AI dalam membantu proses pencarian pasangan hidup. Teknologi ini dinilai tetap bermanfaat untuk memoles profil, menyortir foto yang menarik, atau memicu kembali obrolan yang mulai kaku. Match Group menyimpulkan bahwa para lajang pada dasarnya memosisikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi antarmanusia.
Pihak perusahaan melihat pengguna terbuka memanfaatkan AI demi mempermudah fase-fase sulit saat berkencan, namun tetap memprioritaskan ikatan emosional secara langsung dengan pasangan.