Jorge Martin Ungkap Pembatalan Kontrak Sepihak oleh Tim Pabrikan Ducati
Pembalap MotoGP Jorge Martin mengungkapkan bahwa dirinya sempat menandatangani kontrak resmi untuk bergabung dengan tim pabrikan Ducati sebelum akhirnya dibatalkan secara sepihak oleh manajemen, sebagaimana dilansir dari Detik Oto melalui wawancara di podcast Gypsy Tales pada Kamis (18/6/2026).
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh juara dunia MotoGP 2024 tersebut karena keputusan pembatalan terjadi secara mendadak setelah ia sepakat untuk naik kelas ke tim utama.
"Itu sangat berat. Saya sebenarnya sudah menandatangani kontrak untuk musim 2023 di atas motor pabrikan (Ducati Lenovo). Namun di satu titik, mereka berkata kepada saya, 'Oke, kamu tidak jadi ke sana.
Kami tidak menginginkanmu. Kami ingin pembalap lain,'" ungkap Martin.
Kegagalan promosi tersebut sempat diredam setelah Martin menerima kesepakatan untuk bertahan di Prima Pramac Racing dengan jaminan motor spesifikasi pabrikan.
"Saya sudah tanda tangan saat itu, dan saya rasa tidak ada satu pun orang yang tahu soal ini," tambah Martin.
Pembalap asal Madrid ini menilai keputusan manajemen pabrikan besar kerap mengabaikan komitmen tertulis yang sudah disepakati bersama pembalap.
"Kontrak tidak ada artinya bagi pabrikan besar. Mereka hanya mempermainkan para pebalap, tidak diragukan lagi. Padahal kami sudah memberikan 100 persen di lintasan," sindir Martin.
Menurut Martin, situasi yang ia hadapi serupa dengan dinamika perpindahan pembalap di kompetisi Formula 1 akibat daya tarik komersial yang besar.
"Ketika memikirkannya, saya juga teringat Carlos Sainz ketika dia kehilangan kursinya karena Hamilton. Bagaimanapun, dia adalah juara dunia tujuh kali. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Jadi situasi ini kurang lebih sama," tegas Martin.
Faktor kehadiran Marc Marquez diakui menjadi magnet non-teknis utama yang mengubah arah kebijakan manajemen di markas Borgo Panigale.
"Marquez adalah satu-satunya pebalap yang bisa menghalangi saya bergabung dengan tim pabrikan. Nama Marquez memiliki bobot yang sangat besar, dan jika dia menginginkan motor itu, dia akan mendapatkannya," tutur Martin.
Meski saat itu tengah memimpin klasemen kejuaraan dengan keunggulan 40 poin, Martin sadar ada hal di luar kendalinya yang tidak bisa dilawan.
"Saat itu saya memimpin kejuaraan dengan selisih 40 poin. Hanya itu hal yang bisa saya kendalikan. Tapi ada faktor lain yang tidak bisa saya lawan," lanjut Martin.
Kepastian mengenai masa depannya mulai terlihat jelas saat gelaran GP Italia 2024 di Sirkuit Mugello, di mana ia akhirnya memutuskan pindah ke Aprilia.
"Keputusan atau momen di Mugello 2024 itu membantu saya untuk berkata: 'Oke, ini sudah selesai. Saya akan ke Aprilia. Terserahlah.
Ayo, mari tampil habis-habisan musim ini.' Dan berkat hal itu, saya berhasil memenangkan kejuaraan," ucap Martin.