Kapolda Riau Fokus Pemadaman Karhutla di Desa Kerumutan Pelalawan

Share

Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau secara umum menurun, namun fokus penanganan saat ini berada di Desa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Kebakaran di sana telah berlangsung sekitar 26 hari dan membakar lebih dari 280 hektare lahan, menurut Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Minggu (23/8/2026), dilansir dari Detikcom.

Penanganan kebakaran di Kerumutan sulit karena lahan gambut yang membuat api bertahan di bawah permukaan. Oleh karena itu, operasi udara diperkuat bersama berbagai unsur seperti Kodam XIX/Tuanku Tambusai, BNPB, BPBD, dan Manggala Agni untuk mempercepat proses pemadaman.

"Secara keseluruhan di Provinsi Riau mengalami penurunan. Saat ini yang masih menjadi perhatian ada di Kabupaten Pelalawan, khususnya Desa Kerumutan. Di sana sekitar 280 hektare lebih lahan terbakar dan penanganannya sudah berlangsung sekitar 26 hari," ujar Irjen Herry Heryawan.

Kapolda menegaskan pentingnya penggunaan kekuatan udara karena karakter gambut di Kerumutan.

"Karena Kerumutan merupakan lahan gambut, mau tidak mau kekuatan udara harus terus digunakan. Dukungan BNPB dan BPBD juga cukup masif. Ini merupakan kerja bersama karena karhutla adalah persoalan kita semua," tambahnya.

Selain itu, Kapolda meminta pemerintah daerah menyiapkan alat berat untuk membuat penyekatan di sekitar lokasi kebakaran. Hal ini bertujuan mencegah api meluas hingga mendekati permukiman warga.

"Alat berat harus disiapkan agar kita bisa membuat penyekatan sehingga kebakaran tidak berimbas ke perumahan-perumahan warga. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas," ujar Irjen Herry.

Irjen Herry juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam penanganan karhutla yang dimulai dari fase pra bencana, seperti pembangunan embung dan sekat kanal sebagai langkah mitigasi.

Selain fokus pada pemadaman, Polda Riau dan pemerintah daerah juga menyediakan posko dan tim kesehatan untuk warga terdampak. Perhatian khusus diberikan pada anak-anak dan kelompok rentan terkait dampak paparan asap, termasuk risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Tidak cukup hanya memadamkan api. Kita juga harus memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan penanganan. Kita melakukan pemeriksaan kesehatan, mengecek anak-anak yang terkena ISPA, membagikan masker dan memberikan trauma healing," kata Irjen Herry Heryawan.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: karhutla kebakaran hutan Riau
Editors Team
gilang-permana-putra
Author