Karhutla di Kalimantan Meningkat, Pakar Desak Pencegahan Lebih Kuat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mencapai status waspada dan siaga dengan total 750 hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi antara 17-19 Agustus 2026. Fenomena ini terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Menurut data yang dilansir dari Detikcom, Kalimantan Barat mencatat 367 hotspot, Kalimantan Tengah 343 hotspot, dan Kalimantan Selatan 40 hotspot selama periode tersebut. Selain itu, kebakaran besar juga terjadi sebelumnya di kawasan Bromo dengan luas lahan terdampak mencapai 1.120 hektare yang kini sudah berhasil dipadamkan.
Pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Tatag Muttaqin S Hut M Sc IPM, menilai pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan karhutla secara serius mengingat kejadian ini berulang setiap tahun.
"Kalau sudah berbicara pola yang berulang dan kejadian kebakaran terjadi setiap tahun, sebenarnya ada kesempatan besar bagi kita untuk melakukan pencegahan secara terukur," ujar Tatag.
Tatag menjelaskan bahwa kebakaran hutan di Indonesia banyak dipicu oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja, bukan semata faktor alam.
"Kalau pemerintah fokus pada aspek pencegahan, pelibatan SDM-nya harus diperbanyak. Harus banyak personel yang turun dan peduli di lapangan," tambahnya menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) di lapangan.
Selain SDM, Tatag juga menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan teknologi, terutama sistem peringatan dini, untuk mendeteksi potensi titik api secara cepat dan mempermudah pemetaan serta pengawasan wilayah rawan karhutla.
"Dengan SDM yang terbatas, pemerintah harus didukung teknologi. Meskipun pada akhirnya tetap membutuhkan tenaga manusia di lapangan, setidaknya teknologi dapat mempermudah pemetaan dan pemantauan," jelas Tatag.
Selanjutnya, Tatag mengingatkan perlunya pelibatan aktif masyarakat sekitar hutan dalam upaya pencegahan tersebut agar tidak melakukan aktivitas yang memicu kebakaran.
Menurutnya, data historis harus dimanfaatkan untuk memetakan wilayah rawan sehingga kesiapsiagaan dan mitigasi bisa dilakukan jauh sebelum kebakaran terjadi, bukan secara reaktif.