Studi Ungkap Keamanan Olahraga Wall Climbing untuk Ibu Hamil Trimester Tiga

Share

Aktivitas panjat tebing atau wall climbing sering dianggap berisiko tinggi bagi keselamatan kehamilan. Meski begitu, riset ilmiah terbaru justru menunjukkan hasil yang berbeda mengenai keamanan olahraga ini bagi perempuan yang sedang mengandung.

Sebuah penelitian dalam jurnal Sports Medicine pada 2026 mengungkapkan bahwa ibu hamil yang tetap melakukan panjat tebing hingga trimester ketiga tidak menunjukkan peningkatan komplikasi kehamilan. Hasil ini dilaporkan langsung oleh para peserta studi.

Studi berjudul To Climb or Not to Climb: A Cross-Sectional Investigation of Risks and Benefits During Pregnancy and Postpartum tersebut melibatkan 692 partisipan yang berpengalaman memanjat saat hamil, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.

Para responden mengisi data survei terkait durasi panjat tebing, insiden jatuh, kondisi kesehatan kehamilan, keadaan bayi, hingga masa pemulihan pascapersalinan. Total aktivitas yang tercatat mencapai hampir 64.000 jam sepanjang masa kehamilan.

Peneliti mencatat 155 kejadian hard falls atau hentakan tali penahan yang cukup keras. Kendati demikian, tingkat kejadian medis yang merugikan tercatat sangat kecil, yakni hanya 0,03 per 1.000 jam aktivitas.

Perbandingan antara kelompok yang berhenti memanjat pada usia kehamilan 27 minggu dan yang melanjutkannya hingga trimester ketiga menunjukkan hasil kesehatan yang relatif sama tanpa perbedaan signifikan dalam tingkat komplikasi.

Penulis utama studi sekaligus profesor di Fakultas Kinesiologi, Olahraga, dan Rekreasi, Margie Davenport, menjelaskan bahwa temuan awal ini mematahkan persepsi lama terkait batasan olahraga ibu hamil yang cenderung didasari opini.

"Selama beberapa dekade, kita membatasi ibu hamil melakukan aktivitas seperti panjat tebing karena kekhawatiran akan kesehatan ibu dan bayi, namun bukti kami menunjukkan bahwa aktivitas ini bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik," kata Davenport.

Selain manfaat fisik, sebanyak 96 persen partisipan mengaku merasa bahagia dapat melanjutkan hobi panjat tebing selama masa kehamilan. Kondisi kesehatan emosional mereka tercatat membaik atau tetap stabil.

Sebagian besar partisipan juga dapat kembali beraktivitas di dinding panjat sekitar 2,7 bulan setelah melahirkan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai pemenuhan aktivitas fisik sedang minimal 150 menit per minggu bagi ibu hamil.

Latihan fisik rutin selama kehamilan terbukti menurunkan risiko diabetes gestasional, hipertensi, kenaikan berat badan berlebih, serta depresi postpartum. Namun, kewaspadaan terhadap risiko benturan dan jatuh tetap menjadi alasan utama lembaga seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menganjurkan kehati-hatian.

Peneliti menegaskan bahwa hasil studi berbasis survei ini tidak berarti semua ibu hamil secara bebas dapat mencoba panjat tebing. Aktivitas ini lebih ditujukan bagi mereka yang sudah terbiasa memanjat sebelum masa kehamilan.

Konsultasi dengan dokter kandungan tetap diwajibkan sebelum mengambil keputusan. Kondisi kesehatan, riwayat kehamilan, serta tingkat kesulitan jalur pemanjatan menjadi pertimbangan penting demi keselamatan ibu dan janin.

ACOG mengingatkan agar ibu hamil segera menghentikan segala jenis olahraga dan menghubungi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tertentu. Tanda bahaya meliputi perdarahan vagina, nyeri perut, kontraksi menyakitkan yang teratur, atau keluar cairan ketuban.

Penghentian olahraga juga wajib dilakukan apabila muncul pusing, sakit kepala, nyeri dada, sesak napas sebelum mulai beraktivitas, kelemahan otot yang mengganggu keseimbangan, serta nyeri atau pembengkakan di area betis.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author