Kebijakan Visa Amerika Serikat Hambat Suporter dan Peserta Piala Dunia
Sejumlah suporter dan tim nasional peserta Piala Dunia menghadapi kendala besar akibat pengetatan regulasi visa dan pembatasan perjalanan yang diterapkan oleh otoritas Amerika Serikat selaku tuan rumah turnamen. Masalah administrasi ini berdampak langsung pada keluarga pemain, seperti dialami kiper Cape Verde, Vozinha, yang gagal membawa ibunya akibat kendala biaya jaminan visa sebesar US$ 15 ribu yang diwajibkan Amerika Serikat. Dilansir dari Detikcom, performa gemilang Vozinha saat menahan imbang Spanyol 0-0 pada Senin (15/6) diwarnai kesedihan mendalam karena ketidakhadiran keluarganya di stadion.
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu," ujar Vozinha, Penjaga Gawang Cape Verde.
Pemain veteran tersebut juga mengungkapkan kendala finansial terkait pengurusan dokumen yang mengganjal keberangkatan orang tuanya ke turnamen akbar ini. "Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa datang karena persoalan visa.
Karena besarnya uang yang harus kami bayarkan untuk visa, kami tidak berhasil menyelesaikan prosesnya tepat waktu. Saya ingin ibu saya berada di sini, tetapi saya tetap sangat bahagia." ujar Vozinha, Penjaga Gawang Cape Verde.
Selain jaminan keuangan bagi negara tertentu, Amerika Serikat melarang masuk warga dari Haiti, Pantai Gading, Iran, dan Senegal, serta menolak visa suporter pemegang tiket dari berbagai negara. Kebijakan ini juga memicu penolakan masuk terhadap wasit terbaik FIFA asal Somalia, Omar Artan, sehari sebelum turnamen karena alasan pemeriksaan keamanan oleh Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat.
Sentimen negatif terhadap warga Somalia sempat dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember lalu melalui pernyataan kontroversial terkait para imigran asal Afrika tersebut. Situasi pengetatan ini bertolak belakang dengan janji Presiden FIFA Gianni Infantino yang sebelumnya menjamin kelancaran proses visa bagi seluruh negara peserta beserta pendukungnya. Dampak regulasi ini turut memicu situasi sulit bagi tim nasional Iran yang harus memindahkan kamp latihan mereka ke Tijuana, Meksiko, akibat aturan ketat perbatasan Amerika Serikat.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, menyatakan kekecewaannya setelah timnya dipaksa langsung meninggalkan wilayah Amerika Serikat usai bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada Senin.
"Kami seharusnya tinggal di sini malam ini untuk pemulihan dan kembali besok siang, tetapi mereka tidak mengizinkan kami," kata Amir Ghalenoei, Pelatih Iran. Pihak manajemen tim merasa perlakuan yang mereka terima sangat membatasi ruang gerak pemain di tengah kompetisi. "Sejujurnya, saya tidak tahu alasannya. Saya pikir mungkin tim kami adalah tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia." kata Amir Ghalenoei, Pelatih Iran.
Penyerang Iran, Mehdi Taremi, menambahkan bahwa segala bentuk pembatasan perjalanan dan logistik ini menempatkan timnya dalam posisi yang tidak menguntungkan secara kompetitif.