Lauren Farrelly Alami Kehamilan Traumatis Akibat Komplikasi Plasenta Akreta

Share

Seorang ibu bernama Lauren Farrelly harus menjalani kehamilan kedua yang traumatis setelah didiagnosis mengidap komplikasi plasenta akreta pada usia kehamilan 31 minggu, Selasa (16/6/2026), dilansir dari HaiBunda. Kondisi medis tersebut memaksa Farrelly untuk segera mengemas barang-barangnya guna pindah ke Southampton, Inggris, demi mendapatkan perawatan intensif dan menjalani operasi besar. "Itu sangat traumatis karena suatu hari saya sedang bekerja dan semuanya baik-baik saja, lalu keesokan harinya kami mengemasi barang-barang dan pindah ke Southampton (untuk menjalani perawatan)," kata Farrelly.

Akibat diagnosis tersebut, dokter mengharuskan Farrelly menjalani persalinan dini lima minggu lebih awal melalui operasi caesar dan pengangkatan rahim yang berlangsung selama delapan jam di Southampton Hospital.

Pengalaman ini berbanding terbalik dengan persalinan anak pertamanya, Thea, yang berjalan lancar melalui operasi caesar tanpa komplikasi apa pun. Plasenta akreta sendiri merupakan gangguan kehamilan berisiko tinggi saat ari-ari tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim, yang kasusnya meningkat seiring tingginya angka prosedur caesar selama 30 tahun terakhir.

"Plasenta adalah organ berbentuk pipih yang terbentuk selama kehamilan, yang menempel pada dinding rahim dan terhubung ke bayi melalui tali pusar. Plasenta membantu mengantarkan nutrisi ke bayi," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Layan Alrahmani, MD. Masalah serius akan muncul pascamelahirkan karena ari-ari yang mengakar kuat tersebut tidak dapat terlepas secara normal seperti persalinan biasa.

"Beberapa menit setelah melahirkan bayi, plasenta biasanya akan terlepas dari dinding rahim dan ikut keluar. Namun, jika seorang perempuan mengalami plasenta akreta, maka plasentanya tetap menempel pada dinding rahim. Hal tersebut dapat menyebabkan pendarahan hebat," sambung Alrahmani.

Komplikasi ini kerap tidak memicu gejala awal, namun dokter dapat mendeteksinya melalui penanganan deteksi dini menggunakan perangkat pencitraan medis. "Jika dokter mencurigai perempuan mengalami plasenta akreta, USG atau MRI mungkin akan dilakukan untuk mencoba melihat bagaimana posisi plasenta di dinding rahim," ungkap Alrahmani.

Hingga kini penyebab pasti plasenta akreta belum diketahui, tetapi risikonya meningkat pada ibu berusia di atas 35 tahun, memiliki riwayat operasi rahim, atau merokok.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author