Riset Ungkap Kelompok Agen AI Mampu Membentuk Norma Sosial Seperti Manusia
Interaksi antar agen kecerdasan buatan (AI) dalam sebuah kelompok ternyata dapat memicu pembentukan norma sosial, konvensi komunikasi, hingga perilaku kolektif. Fenomena unik yang menyerupai kultur masyarakat manusia ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances. Temuan tersebut juga dilaporkan oleh Nature, seperti dikutip dari Bloomberg Technoz pada Jumat (19/6/2026).
Dalam eksperimennya, sekelompok model AI ditempatkan dalam satu lingkungan bersama untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Hasilnya menunjukkan bahwa para agen AI tersebut secara spontan mengembangkan aturan penggunaan bahasa serta konvensi bersama tanpa adanya instruksi dari manusia. Perilaku kelompok ini tidak dapat dijelaskan hanya dari karakteristik masing-masing agen secara individu.
Ketika berinteraksi dalam jumlah besar, muncul norma baru yang berkembang secara kolektif. Proses ini mirip dengan cara komunitas manusia dalam membangun budaya, kebiasaan, atau istilah khusus yang hanya dipahami oleh anggota kelompok tertentu.
Salah satu fenomena menarik dalam eksperimen yang disebut naming game ini adalah kemampuan AI menciptakan konvensi penamaan secara mandiri. Agen-agen AI bertugas memilih nama atau istilah untuk objek tertentu. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyepakati istilah yang sama meskipun tidak ada aturan yang mengharuskan hal tersebut. Proses ini menyerupai bagaimana kata atau istilah populer lahir dan menyebar di tengah komunitas manusia.
Kondisi ini memunculkan gagasan bahwa AI suatu saat dapat mengembangkan bentuk budaya digitalnya sendiri. Budaya dalam konteks ini bukan berarti seni atau tradisi, melainkan seperangkat norma, kebiasaan, simbol, dan pola perilaku dari interaksi berulang. Studi lain yang diterbitkan dalam Social Network Analysis and Mining juga menunjukkan hal serupa. Kelompok agen berbasis model bahasa besar (LLM) cenderung membentuk struktur sosial internal mereka sendiri.
Agen AI yang memiliki karakteristik atau preferensi serupa akan lebih sering berinteraksi satu sama lain. Interaksi tersebut kemudian menciptakan kelompok-kelompok baru yang menyerupai komunitas atau subkultur digital. Bahkan, sejumlah peneliti dan developer AI mulai mengamati kemunculan fenomena yang mirip dengan meme internet.
Pola komunikasi tertentu dalam komunitas agen AI dapat menyebar cepat dan diadopsi oleh banyak agen lain. Meskipun bentuknya belum berupa gambar lucu seperti di media sosial manusia, mekanisme penyebaran dan reproduksinya menunjukkan pola yang sama. Para ilmuwan kini mulai menggunakan istilah 'masyarakat AI' untuk menggambarkan fenomena sosial tersebut.
Laporan Nature menyimpulkan bahwa perilaku kolektif yang muncul merupakan hasil interaksi sosial, bukan sekadar respons individual dari masing-masing model. Di sisi lain, perkembangan ini juga memicu kekhawatiran baru mengenai potensi munculnya pola komunikasi yang sulit dipahami manusia.
Para peneliti menilai aspek transparansi menjadi sangat krusial saat ini. Pengawasan ketat tetap diperlukan agar manusia dapat memahami bagaimana kelompok AI berinteraksi dan mengambil keputusan secara kolektif.