Kemenpar Targetkan Kunjungan 19 Juta Wisatawan Mancanegara pada 2027
Kementerian Pariwisata membidik lonjakan performa sektor pariwisata nasional pada 2027 lewat peningkatan signifikan pada kunjungan wisatawan asing, devisa, serta kontribusi terhadap produk domestik bruto.
Arah kebijakan ini menjadi bagian dari mandat yang diterima otoritas pariwisata hingga 2029 demi mendongkrak perekonomian negara, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (18/6).
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana menyatakan, seluruh indikator kinerja utama kementerian mengalami kenaikan target jika dikomparasikan dengan capaian tahun 2026. Untuk kunjungan wisatawan mancanegara, target ditetapkan menyentuh angka 17,6 juta hingga 19,1 juta kunjungan atau tumbuh sekitar 8,5% sampai 10%.
Pemerintah juga memproyeksikan pengeluaran pelancong asing berkisar antara US$1.447 hingga US$1.497 per kunjungan guna memaksimalkan penerimaan devisa negara.
"Diharapkan menghasilkan devisa pariwisata sebesar US$25,5 hingga US$28,6 miliar dolar Amerika Serikat atau tumbuh 15,9% dibandingkan tahun sebelumnya," kata Widiyanti, Menteri Pariwisata dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (17/6).
Akumulasi target devisa tersebut setara dengan Rp459 triliun hingga Rp515 triliun apabila dikonversi menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Angka ini diproyeksikan menjadi pilar utama pemerintah dalam memperkuat sumbangsih sektor pariwisata terhadap struktur ekonomi makro.
Pada sektor domestik, pergerakan wisatawan nusantara ditargetkan menembus minimal 1,28 miliar perjalanan pada 2027, yang berarti naik 8,5% dari tahun sebelumnya. Target ekspansi ini juga dibarengi dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja baru di bidang pariwisata hingga mencapai 27,33 juta orang.
Adapun kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional dipatok merangkak naik ke kisaran 4,7% hingga 4,8%, atau meningkat 0,4 poin persentase. Sementara itu, realisasi investasi di sektor pariwisata ditargetkan mampu menyentuh angka minimal Rp71 triliun atau mencatatkan pertumbuhan sekitar 11,8% dibandingkan tahun 2026.
Widiyanti menambahkan, indikator Travel and Tourism Development Index kini tidak lagi di masukkan ke dalam indikator kinerja utama kementerian karena siklus pemeringkatannya yang hanya dirilis setiap dua tahun sekali.