Kementerian Luar Negeri Iran Tegaskan Serangan Militer sebagai Aksi Bela Diri
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa serangan terbaru mereka terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk Persia merupakan tindakan membela diri yang sah pada Senin (13/7/2026). Langkah ini diambil sebagai respons atas agresi berkepanjangan dari pihak Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Pernyataan resmi Teheran tersebut diterbitkan guna menolak narasi dari negara-negara Barat, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Pihak Barat sebelumnya melabeli tindakan militer Iran di kawasan Timur Tengah tersebut sebagai sebuah bentuk agresi tanpa provokasi.
Sikap keras Iran ini juga muncul untuk merespons pernyataan dari juru bicara Sekretaris Jenderal PBB yang sempat menyatakan keprihatinan atas kembali terjadinya konfrontasi militer. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyanggah klaim PBB dan menyatakan situasi tersebut merupakan imbas serangan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.
"Iran tidak 'menyerang'. Serangan Iran terhadap pangkalan dan aset militer AS yang ditempatkan di Teluk Persia selatan merupakan pelaksanaan hak inheren Iran untuk membela diri berdasarkan hukum internasional yang sah dan sesuai hukum," kata Baghaei, dilansir media Iran, Press TV, Senin (13/7/2026).
Ketegangan regional ini kian meningkat setelah Mojtaba Khamenei, selaku putra sekaligus penerus mendiang pemimpin tertinggi Iran, menyerukan perlawanan. Sebuah surat kabar konservatif di Iran bahkan telah mempublikasikan daftar pejabat tinggi dari Amerika Serikat, Israel, dan Eropa yang menjadi target pembalasan.
"Pembalasan dendam adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan," kata Mojtaba pada hari Sabtu (11/7) lalu dalam pesan pertamanya sejak pemakaman ayahnya minggu ini.
Selain ancaman pembalasan terhadap para pemimpin Barat, pihak Teheran juga memberikan perhatian besar pada keamanan jalur maritim strategis di kawasan tersebut. Blokade dan perlindungan terhadap jalur perairan vital kini menjadi fokus utama pemerintah Iran.
"Jalur strategis ini lebih penting daripada puluhan bom atom, dan Republik Islam Iran akan melindunginya," kata penasihat Mojtaba Khamenei tersebut, Mohsen Rezaei seperti dikutip oleh kantor berita Iran, ISNA, dilansir Al-Arabiya dan AFP, Senin (13/7/2026).
Perlindungan ketat terhadap Selat Hormuz diprioritaskan oleh penasihat kepresidenan di tengah tuduhan Barat terkait ambisi nuklir Teheran. Pemerintah Iran secara konsisten membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa pengembangan program nuklir mereka murni demi tujuan damai serta pemenuhan kebutuhan sipil.