Kenaikan BI Rate Mulai Bayangi Sektor Teknologi Informasi
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate dilaporkan mulai membayangi industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Langkah pengetatan moneter ini dinilai berpotensi memengaruhi keputusan belanja teknologi di berbagai sektor usaha.
Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, Bank Indonesia tercatat telah menaikkan BI Rate sebanyak tiga kali sepanjang periode Mei hingga Juni 2026. Suku bunga acuan yang semula berada di posisi 4,75% melonjak ke level 5,75% setelah naik 50 bps pada Mei, lalu diikuti dua kali kenaikan masing-masing 25 bps pada Juni.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) Fanky Christian menjelaskan bahwa tekanan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membuat pelanggan menahan atau menunda pembelian perangkat maupun solusi teknologi.
"Secara langsung belum berdampak, tapi mengakibatkan pelanggan TIK kemungkinan menunda pembelian, siklus penjualan menjadi lebih panjang, pembiayaan TIK jadi lebih mahal. Semua ini bisa menjadi beban ganda untuk industri TIK Indonesia," kata Fanky, pada Bloomberg Technoz, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Fanky, kenaikan suku bunga biasanya akan meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan. Pada saat yang sama, konsumen korporasi maupun pemerintah cenderung lebih berhati-hati mengalokasikan anggaran investasi di tengah tingginya biaya pinjaman.
Meski demikian, Aptiknas melihat ada peluang peralihan model belanja dari capital expenditure (capex) ke operational expenditure (opex). Pelanggan berpotensi beralih ke model layanan berbasis sewa yang tidak membutuhkan investasi besar di awal.
"Ada kemungkinan sisi positifnya juga, karena pelanggan mungkin akan beralih ke model sewa atau opex dibandingkan capex atau investasi," ujarnya.
Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mengakui adanya perubahan strategi ekspansi bisnis akibat kenaikan BI Rate yang beriringan dengan belum pulihnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif Angga menyatakan situasi ini memberikan tekanan ganda bagi industri padat modal seperti penyedia layanan internet (ISP), operator telekomunikasi, data center, hingga perusahaan teknologi.
"Ketika suku bunga naik dan rupiah melemah secara bersamaan, maka biaya investasi menjadi lebih mahal dan proses perencanaan bisnis harus lebih hati-hati," kata Arif Angga, pada Bloomberg Technoz.
Guna menghadapi tantangan tersebut, pelaku industri mulai mengubah pendekatan bisnis secara selektif. Perusahaan memprioritaskan efisiensi operasional dan wilayah dengan permintaan yang jelas demi menjaga kelangsungan ekspansi digital.
"Kami cenderung melakukan penyesuaian strategi. Misalnya dengan lebih selektif dalam belanja modal, memprioritaskan wilayah dengan permintaan yang jelas, melakukan efisiensi operasional, mencari skema pembiayaan yang lebih sehat, serta memperkuat kerja sama antar pelaku industri," ujarnya.