Kenali 10 Kalimat yang Sering Diucapkan Pembohong Saat Berbicara

Share

Dalam interaksi sosial, tidak semua orang menyampaikan pernyataan yang sesuai dengan kenyataan. Kebohongan terkadang dilakukan demi menjaga perasaan orang lain atau sekadar membangun citra diri yang lebih positif.

Sebuah penelitian pada tahun 2022 menunjukkan bahwa mayoritas individu pada dasarnya bertindak jujur, walaupun sebagian tetap berbohong pada kondisi tertentu. Tipe pembohong tertentu bahkan sangat mahir menyusun kata-kata sehingga terdengar meyakinkan.

Dikutip dari HaiBunda, orang yang tidak jujur sering kali memunculkan pola kalimat spesifik secara tidak sadar. Berikut adalah beberapa ungkapan yang kerap digunakan oleh pembohong menurut platform Your Tango.

1. "Memangnya siapa yang mau bikin cerita seperti itu?"

Ungkapan ini dilemparkan untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi. Pelaku berusaha membuat tuduhan lawan bicara terkesan tidak masuk akal agar mereka terhindar dari tanggung jawab.

2. "Kamu sudah kenal aku"

Kalimat ini berfungsi sebagai tameng untuk mengelak dari pertanyaan krusial. Cara ini memicu keraguan pada ingatan atau penilaian lawan bicara, sehingga percakapan serius menjadi terhenti.

3. "Aku tidak pernah mengatakan itu"

Bentuk manipulasi ini bertujuan mengacaukan ingatan lawan bicara. Pembohong akan merevisi ucapan mereka sebelumnya guna menyembunyikan kesalahan yang telah diperbuat.

Mengecilkan Masalah dan Pembelaan Diri

4. "Ini bukan masalah besar"

Pernyataan ini digunakan untuk meremehkan kesalahan agar dampak perilaku mereka terlihat sepele. Berdasarkan laporan Advances in Cognitive Psychology, pembohong merasa beban mereka berkurang ketika skala kebohongan dikecilkan.

5. "Aku tidak bermaksud seperti itu"

Kalimat ini berfungsi menekan dampak negatif dari ucapan yang telanjur keluar. Merujuk studi dalam Nature Neuroscience, kebiasaan berbohong akan menjadi semakin mudah dilakukan secara berulang jika terus dibiarkan.

6. "Itu benar-benar terjadi"

Pelaku kebohongan cenderung mendramatisasi cerita agar terlihat sahih. Mereka terus memproduksi kalimat penegasan guna meyakinkan orang lain bahwa narasi tersebut nyata.

Sikap Defensif dan Pembalikan Situasi

7. "Seharusnya kamu berterima kasih padaku"

Kebohongan kerap berakar dari rasa tidak aman, sehingga pelakunya sering menempatkan diri sebagai korban demi mendapat empati. Meski memberikan ketenangan instan, penelitian British Journal of Social Psychology menyatakan hal ini justru merusak harga diri dalam jangka panjang.

8. "Itu yang sebenarnya ingin aku katakan"

Saat kronologi cerita mulai tumpang tindih dan tidak konsisten, kalimat ini menjadi penyelamat instan. Alih-alih mengakui kekeliruan, mereka memilih memperkuat skenario yang sudah dibangun.

9. "Ya sudahlah"

Pembohong sering kali menunjukkan respons yang sangat tenang saat kedapatan berbohong. Ungkapan santai atau gerakan memutar mata menjadi bentuk pertahanan diri karena mereka sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut.

10. "Bagaimana mungkin kamu menanyaiku?"

Sikap defensif langsung muncul ketika kebohongan mulai terdeteksi. Pelaku akan membalikkan keadaan dengan cepat agar lawan bicara merasa bersalah karena telah melayangkan kecurigaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author