Kesepakatan Damai Donald Trump dengan Iran Menuai Kritik Senator Republik

Share

Kesepakatan damai yang dijalin Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Iran menuai kritikan pedas dari sejumlah senator Partai Republik. Kebijakan tersebut dinilai jauh dari kemenangan besar yang dijanjikan dan berisiko membuat Teheran semakin kuat.

Langkah diplomatik ini tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Trump di Prancis pada Rabu (17/6). Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detikcom, kesepakatan ini bertujuan mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz, dan menstabilkan pasar energi dunia.

Kendati demikian, klausul dalam MoU tersebut memicu kekhawatiran mendalam di internal Partai Republik. Trump dinilai melonggarkan sanksi, membuka akses pasar minyak, dan memberikan prospek dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar tanpa adanya komitmen tegas dari Iran.

Kritik tajam datang dari Senator Republik, Bill Cassidy, yang memandang keputusan tersebut sebagai kekeliruan besar dalam diplomasi internasional.

"Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup," tulisnya di media sosial X, dilansir kantor berita AFP, Jumat (19/6/2026). "Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga telah membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir telah berhenti."

Kecaman serupa disampaikan oleh Roger Wicker selaku ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat. Ia menilai pelonggaran sanksi dan pencairan dana tidak sebanding dengan komitmen Iran yang hanya bersedia memperpanjang negosiasi selama 60 hari.

"Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran — meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS — akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," katanya dalam sebuah pernyataan, mengacu ke perjanjian nuklir dengan Iran semasa pemerintahan Presiden AS Barack Obama.

Kekhawatiran mengenai potensi Iran membangun kembali kekuatan militernya juga diutarakan oleh Senator Texas, John Cornyn. Ia melihat celah bagi Teheran untuk terus melanjutkan pengayaan uranium dan memperkuat persenjataan selama masa jeda tersebut.

Di sisi lain, kubu Partai Demokrat bersikap kompak dalam menolak kesepakatan damai ini. Mereka menilai perang berbiaya tinggi yang diinisiasi Trump pada akhirnya hanya mengembalikan situasi ke status quo dan justru memperkuat posisi tawar Iran.

"Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," cetus pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam pidatonya di sidang pleno.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan solusi praktis demi memulihkan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa kesepakatan belum bersifat final dan operasi militer dapat dilanjutkan jika proses negosiasi mengalami jalan buntu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author