Kirab Ancak Agung Jember Raih Dua Rekor Dunia MURI
Pemerintah Kabupaten Jember mencatatkan dua rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam ajang Kirab Pawai Budaya Ancak Agung yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Ajang kebudayaan tersebut menampilkan 867 ancak serta gunungan suwar-suwir setinggi 3,7 meter.
Pengumuman rekor MURI disampaikan oleh Senior Representative MURI Ari Andriani saat acara Doa dan Shalawat Bersama di Alun-Alun Jember. Kegiatan kirab ini digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Jumlah 867 ancak yang diarak dari Jalan Gajahmada menuju Alun-Alun Jember melampaui rekor MURI sebelumnya sebanyak 449 ancak. Selain itu, gunungan suwar-suwir disajikan setinggi 3,7 meter menggunakan 1.600 kemasan atau sekitar 32.000 buah makanan khas Jember tersebut.
Panitia awalnya mengusulkan 1.000 ancak, tetapi verifikasi MURI pada Sabtu pagi menetapkan 527 hingga 867 peserta yang terdaftar resmi dari berbagai instansi. Capaian tersebut dikukuhkan sebagai rekor dunia karena berhasil mengangkat kearifan lokal Jember.
MURI memverifikasi secara langsung dan menetapkan batas peningkatan peserta minimal 10 persen dari rekor lama.
"Setelah tadi pagi kami verifikasi, ada 527 Ancak Agung," kata Ari.
Pihak MURI juga menantang panitia daerah untuk menambah jumlah ancak pada ajang berikutnya.
"Jumlah tersebut kembali memecahkan rekor yang sebelumnya juga dicatatkan Jember sebanyak 449 ancak agung dan tahun ini sebanyak 867 ancak, sehingga menjadi yang terbanyak," kata Ari Andriani.
Ajang budaya ini dimenangkan oleh SMPN 6 Jember sebagai juara pertama kompetisi antarpeserta, diikuti Roxy Mall di posisi kedua dan SMPN 2 Jember sebagai juara ketiga. Setelah proses dokumentasi MURI selesai, ratusan gunungan hasil bumi langsung dibagikan dan diperebutkan oleh masyarakat yang memadati Alun-Alun Jember.
Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan bahwa rekor ini menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam merawat kebudayaan daerah.
"Ini bukan sekadar tentang rekor, tetapi bagaimana kita menjaga tradisi dan gotong royong masyarakat Jember. Tahun depan kita ingin lebih besar lagi, targetnya 1.000 ancak. Mudah-mudahan semangat ini terus tumbuh dan menjadi kebanggaan masyarakat Jember," kata Fawait.
Dalam kesempatan tersebut, Fawait mengenakan syal bercorak Indonesia dan Palestina sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
"Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT Kemerdekaan RI sama-sama membawa pesan penting tentang persaudaraan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian terhadap sesama," katanya.
Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut berlandaskan amanat konstitusi nasional.
"Sikap tersebut sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa," tuturnya.
Fawait menegaskan bahwa aksi solidaritas ini berfokus penuh pada nilai kemanusiaan sejagat.
“Ini bukan urusan agama, tetapi ini adalah urusan kemanusiaan. Mudah-mudahan dari Jember untuk Indonesia dan untuk dunia, kita menunjukkan bahwa di Jember toleransi tetap harus kita jaga bersama-sama,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya saling menghargai antarumat beragama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau mengaku umat Nabi Muhammad, tidak mungkin akan mengganggu ibadah agama yang lain,” katanya.
Fawait menutup keterangannya dengan mengapresiasi kebersamaan seluruh warga yang terlibat dalam pawai tersebut.
“Ancak Agung mungkin tidak seberapa, tetapi ini membuat kita bahagia karena kita bisa berkumpul bersama,” kata Gus Fawait.