Kisah Nestapa Putri Habibie Saat Buah Hati Mengalami Bingung Puting

Share

Dada seorang ibu mana yang tidak berdesir ngilu ketika mendapati buah hatinya mendadak enggan mendekat ke dekapan hangat yang biasa menjadi tempatnya bernaung. Bagi seorang perempuan yang baru saja menapaki jalan terjal sebagai orang tua, momen ketika sang anak menolak untuk menyusu langsung adalah sebuah hantaman psikologis yang teramat telak. Perasaan remuk redam itulah yang kini tengah membayangi hari-hari Putri Habibie, seorang ibu yang hatinya hancur berkeping-keping mendapati bayinya menolak payudara.

Kisah pilu ini bermula dari kelahiran Senandung Asmara Masya Albera pada 20 Februari 2026. Kehadiran Masya di dunia membawa kebahagiaan luar biasa bagi Putri dan suaminya, musisi Rafli Albera. Namun, perjalanan mengASIhi tidak pernah menjadi jalan yang mulus bagi sang ibu baru. Lewat sebuah unggahan emosional di akun Instagram pribadinya, @putrihabibie, ia menumpahkan segala gundah gulana yang berkecamuk di dalam dadanya.

"Pertama kali ngerasain bayiku nolak payudaraku alias bingung puting. Ternyata hatinya nano2 ya rasanya," tulisnya.

Keadaan tersebut seolah menjadi akumulasi dari perjuangan panjang yang menguras energi dan emosinya sejak hari pertama persalinan. Putri harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa cairan emas yang sangat dinantikan itu enggan mengalir lancar dari tubuhnya sendiri.

"Sejak Masya lahir, ASIku tidak keluar. Terlebih ditambah aku terkena anemia berat hingga badanku menggigil hebat setiap harinya. Sehingga akhirnya kami berkeputusan untuk kasih Masya sufor. Padahal Masya sangat amat terampil latch on dari mulai baru lahir, tapi PDku msh belum keluar ASI yg mencukupi di minggu2 selanjutnya. Sampai Masya usia 3 bulan pun masih dengan sufor dengan dot karena walau sudah mencoba segala cara, ASIku tetap sangat sedikit (5ml sekali pompa 15 menit tiap PD). Alhamdulillah tumbuh kembang Masya tetap optimal dan beratnya terjaga. Sampai akhirnya kemarin pertama kalinya Masya mengalami bingung puting. Ketika dikasib PDku, dia nangis nangis dan nolak. Ternyata untuk seorang ibu, situasi tsb sangat menyedihkan. PDku yg tadinya memberikan Masya kenyamanan, skrg justru sebaliknya. Sekarang aku masih mencoba berdamai dengan keadaan sambil tetap mengusahakan segalanya untuk bisa mengASIhi. Semoga one day PD mama bisa kembali memberikan Masya ketenangan ya nak.. I love you!" ujarnya.

Dalam sebuah rekaman video yang diunggahnya, air mata Putri tidak lagi dapat terbendung. Ia tampak meneteskan air mata tatkala menyodorkan payudaranya dan mendapati sang buah hati menangis histeris sembari memalingkan wajah.

Realitas pahit yang dihadapi oleh Putri Habibie sebenarnya bukanlah sebuah anomali tunggal, melainkan badai yang kerap menerpa sebagian ibu menyusui di berbagai belahan dunia. Dalam ranah medis, fenomena ini memicu beragam pandangan di kalangan para ilmuwan dan praktisi kesehatan.

Beberapa ahli memandang bingung puting sebagai sebuah persoalan nyata yang berakar dari mekanisme mekanis. Dalam sebuah tinjauan ilmiah, terdapat korelasi erat antara pengenalan dot buatan dengan risiko penyapihan dini, perlekatan mulut yang buruk, hingga penolakan total saat menyusui langsung. Kendati demikian, sejumlah riset lain menunjukkan bahwa pembuktian kausalitas langsung dari penggunaan dot saja masih tergolong minim, karena proses menyusui melibatkan koordinasi tekanan biologis yang sangat kompleks antara ibu dan bayinya.

Secara fisiologis, proses menyusui yang normal melibatkan tiga tahapan utama: pertama, bayi menempel dan merangsang payudara; kedua, refleks let-down melepaskan ASI ke dalam saluran; dan ketiga, tekanan tinggi terbentuk di dalam payudara. Ketika dot atau botol susu diperkenalkan terlalu dini, ritme alami ini kerap terganggu.

Kebingungan ini umumnya termanifestasi dalam dua jenis kondisi. Jenis pertama menyerang bayi berusia lebih muda yang mendadak kesulitan menempelkan mulutnya ke payudara setelah mengenal dot. Sementara jenis kedua terjadi pada bayi yang usianya lebih besar, di mana mereka secara spontan mulai memprioritaskan botol karena aliran susunya yang cenderung lebih konstan dan tidak memerlukan usaha mengisap yang sekuat payudara ibu.

Mengenali Gejala dan Langkah Preventif

Meskipun banyak bayi yang mampu bertransisi dengan mulus tanpa kendala, tidak ada indikator pasti untuk memprediksi anak mana yang akan mengalami penolakan. Gejala bingung puting ini biasanya ditandai dengan anak yang berjuang keras sekadar untuk menempel pada payudara, menangis hebat saat diberi makan, hingga terjadinya perubahan pola mengisap. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh bayi, melainkan juga berimbas pada fisik sang ibu yang rentan mengalami pembengkakan payudara akibat produksi susu yang tidak terosongkan secara optimal.

Guna meminimalkan risiko ini, para pakar kesehatan menyarankan beberapa langkah preventif bagi para orang tua. Disarankan untuk menunda pengenalan dot atau botol setidaknya hingga bayi genap berusia empat minggu. Apabila intervensi nutrisi tambahan mutlak diperlukan, penggunaan media alternatif seperti sendok, jarum suntik, cangkir menyusui, atau sistem menyusui tambahan sangat direkomendasikan.

Selain itu, meneteskan sedikit ASI ke mulut bayi sebelum proses menyusui dimulai dapat menstimulasi perlekatan yang lebih baik. Menjaga suasana tetap tenang melalui nyanyian atau variasi posisi, serta memilih dot dengan aliran lambat (slow flow) juga dapat membantu bayi beradaptasi dengan ritme alami payudara ibu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author